{"id":1981,"date":"2017-03-02T06:19:00","date_gmt":"2017-03-02T06:19:00","guid":{"rendered":"https:\/\/dinnirossy.com\/?p=1981"},"modified":"2026-08-13T06:20:41","modified_gmt":"2026-08-13T06:20:41","slug":"apel-merah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dinnirossy.com\/?p=1981","title":{"rendered":"Apel Merah"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-pullquote has-white-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-1\" style=\"color:#20445d\"><blockquote><p>&#8220;Kisah ini kucatat semata-mata sebagai penanda jejak perjalanan kami. Sebab aku sadar, suatu hari nanti kami akan membutuhkan ingatan ini kembali. Entah saat badai perselisihan sedang menguji kami, atau sekadar untuk dikenang bersama sewaktu rambut kami mulai memutih kelak.&#8221;<\/p><cite>Dinni Rossy<\/cite><\/blockquote><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dua bulan setelah perpisahan itu\u2014setelah semuanya benar-benar berakhir dengan Kumbang\u2014takdir mempertemukan alur hidupku dengan ApelMerah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jujur, waktu itu ketakutan menyelimutiku. Ada bisikan cemas bahwa mungkin aku tidak akan pernah sampai ke jenjang pernikahan. Meski jauh di lubuk hati aku percaya Allah selalu menyiapkan takdir yang lebih baik setelah sebuah kehilangan, rasa tidak percaya diri itu tetap saja menggerogoti. Namun, sungguh aku tak menyangka, penawar itu datang jauh lebih cepat dari yang kubayangkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika diingat kembali, tanpa perpisahan dengan Kumbang, aku tidak akan pernah berada di titik ini. Tidak akan pernah bertemu dengan ApelMerah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semuanya bermula dua bulan pasca-perpisahan. Seorang kerabat dekat yang merasa iba melihat duka dan kegagalan yang kutanggung, berniat menjodohkanku dengan seseorang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jawaban pertamaku? Tentu saja menolak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hatiku terlalu lebam untuk kembali memulai. Aku kehilangan rasa percaya diri; merasa tak cukup menarik, merasa tak pernah pandai menjalin hubungan dengan pria. Terlebih, kata-kata penutup dari Kumbang masih menancap tajam di ingatan:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cSelama kita berjalan bersama, aku tidak pernah punya rasa sama kamu. Maaf.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebuah kebohongan, pikirku. Sebab dari tiap tatapan dan sikapnya dulu, aku bisa merasakan apa yang ia rasa. Namun, terlepas dari apakah ucapan itu jujur atau tidak, dampaknya tetap sama: mentalku hancur berkeping-keping.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itulah, ketika niat mengenalkanku pada ApelMerah disampaikan, reaksi pertamaku adalah menghindar. Aku takut. Aku trauma membayangkan jika pria ini pun nantinya hanya terpaksa menerimaku\u2014seperti yang dilakukan Kumbang dulu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, takdir selalu punya jalannya sendiri yang tak tertebak\u2014dan jujur saja, agak absurd.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di masa itu, ketika BlackBerry Messenger masih menjadi rajanya media komunikasi, tiba-tiba muncul sebuah undangan pertemanan baru. Alih-alih terpesona, aku justru mengernyitkan dahi. Nama akunnya sangat tidak meyakinkan, lebih mirip akun jualan dibanding profil seorang pria dewasa:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>&#8220;ApelMerah-0812xxxxxxxx whatsapp only&#8221;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Khas sekali seperti kontak <em>online shop<\/em> yang biasa menebar spam, bukan? Karena enggan memenuhi daftar kontakku dengan promosi barang yang tidak perlu, undangan itu kudiamkan begitu saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sampai akhirnya, saudaraku memberi kabar bahwa itu adalah kontak pria yang ingin ia kenalkan. Otakku seketika membeku. Jadi, calon jodohku ini menggunakan nama profil ala sales grosiran?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan sedikit menahan tawa dan menepis canggung, barulah aku membuka kembali BBM, lalu menekan tombol <em>approve<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tak lama setelah itu, sebuah pesan masuk. Dia menyapa duluan, memulai perkenalan dengan cukup luwes. <em>Damn, he actually had the guts.<\/em> Kalau mengingat sifat aslinya sekarang, aku masih sering tidak percaya dia pernah seberani itu mendekati cewek duluan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Percakapan kami mengalir santai. Aku membalas pesannya tanpa berniat &#8220;jual mahal&#8221;\u2014<em>seriously, playing hard to get is so yesterday.<\/em> Lagipula, sekadar bertemu kan bukan berarti langsung berkomitmen, bukan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sampai pada satu titik, dia menyampaikan niatnya untuk berkunjung ke kotaku. Tanpa berpikir panjang, aku menyetujuinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, dasar ApelMerah\u2014pria yang belakangan kubertahu memang tergolong irit bicara di <em>chat<\/em>\u2014setelah bilang mau datang, dia malah menghilang begitu saja. <em>Ghosting mid-PDKT? Nice move, Bro.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu tiba-tiba, tanpa <em>babibu<\/em>, pesan berikutnya muncul:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cBesok sore aku ke sana ya, kita ketemuan, boleh?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cJam berapa?\u201d<\/em> tanyaku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cSepuluh pagi aja.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tunggu, tadi katanya sore? <em>Make up your mind, please!<\/em> Tapi ya sudahlah, maklum. Jarak antar-kota kami memakan waktu sekitar dua jam perjalanan. Karena dia mengendarai sepeda motor, wajar saja dia ragu kalau harus jalan sore\u2014bisa-bisa dia kemalaman saat perjalanan pulang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cOke,\u201d<\/em> balasku singkat, menutup kesepakatan pertemuan pertama kami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Besoknya, ApelMerah benar-benar membuktikan ucapannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku pun bersiap\u2014pilih baju secukupnya dan <em>dandan<\/em> seadanya, persis seperti mau nongkrong dengan teman lama. Padahal idealnya, <em>blind date<\/em> begini sukses bikin jantung mau copot. Tapi heran, menyambut kedatangan ApelMerah, perasaanku santai-santai saja. <em>Zero pressure, surprisingly.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu layar ponselku menyala, memperlihatkan sebuah pesan darinya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cAku berangkat ya, DEK.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Wait&#8230; WHAT?!<\/em> Dia memanggilku &#8220;DEK&#8221;? <em>Oh, come on!<\/em> Rasanya sudah lama sekali tidak mendengar panggilan itu, sampai-sampai ada getaran hangat dan rindu yang diam-diam menyelinap. <em>(Ironisnya, sekarang kalau disuruh panggil &#8220;Dek&#8221; lagi dia malah sok malu-malu kucing, padahal kebiasaan manggil &#8220;Sayang&#8221; terus!)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa saat kemudian, dia sampai. Tapi bukannya menjemput manis di depan pagar kos, pria ini malah memarkirkan motor bututnya di pinggir jalan raya. <em>Gosh<\/em>, gengsi atau malas, nih? Muka rasanya langsung datar penuh kekesalan. Alhasil, aku harus rela berjalan cukup jauh menyusuri gang demi menemuinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Singkat cerita, aku pun naik ke boncengan untuk mencari tempat makan yang enak buat ngobrol. Demi momen ini, aku sengaja pakai rok\u2014sok tampil feminin dan manis. Tapi ya ampun, <em>lesson learned:<\/em> pakai rok saat naik motor itu menyiksa! Ujung kainnya berkali-kali tersangkut di roda, ditambah aku sempat tersandung pula. Rasanya ingin menepok jidat sendiri karena keputusasaan ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ujian belum berhenti di situ. Jam 10 pagi, mencari tempat makan yang buka di daerah kosku ternyata hil yang mustahil. Mayoritas di sana adalah kafe hits yang baru menggeliat di atas jam tiga sore. Setelah putar-putar tidak jelas, akhirnya pilihan pasrah jatuh pada sebuah kedai makan, W*ng So.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami masuk, memesan makanan, lalu duduk saling berhadapan. Di titik inilah, untuk pertama kalinya aku menatap wajahnya dari jarak dekat. Dan&#8230; <em>well, I hate to admit it, but<\/em> ApelMerah ternyata lumayan cakep! Bikin mata ini seketika berbinar-binar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi ingat, itu DULU ya! Dulu sekali! Entah kenapa kalau dilihat sekarang, kok rasanya sudah biasa saja&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami pun mulai mengobrol. Dan tebak topik pertama yang dia angkat? <strong>Mantan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Unbelievable.<\/em> Pertama kali bertemu, topik utamanya benar-benar soal mantannya sendiri! Aneh sekali. Padahal seingatku, kebanyakan pria biasanya paling anti membahas mantan saat kencan pertama. Aku saja yang dari tadi menahan diri supaya tidak terdengar kepo, eh&#8230; dia malah dengan sukarela membuka kartu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cAku dulu pernah dekat sama cewek,\u201d<\/em> ceritanya tanpa beban. <em>\u201cEh, enggak tahunya dia udah punya cowok. Padahal dari awal ngakunya jomblo.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara dia asyik mendongeng, aku cuma mengangguk-angguk sok menyimak. Sejujurnya, fokusku terdistraksi total. Aku tidak terlalu mendengarkan ceritanya karena sibuk memperhatikan wajahnya. <em>Gosh, he was cute.<\/em> Ada manis-manisnya begitu, bikin susah fokus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cPasti cantik ya, sampai kamu susah move on begitu?\u201d<\/em> pancingku, pura-pura polos padahal jiwa kepoku sudah meronta-ronta menuntut kejelasan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cIya, cantik sih. Tapi kalau dari awal udah bohong, ya udah lah, enggak usah dilanjutin,\u201d<\/em> jawabnya santai. <em>\u201cAkhirnya kami putus. Maksudku, kalau udah punya pacar ya jujur aja, enggak usah ngaku single.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku langsung menyambar kesempatan itu tanpa ragu. <em>\u201cOoh&#8230; tapi kalau aku, beneran masih single kok!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>What the hell did I just say?!<\/em> Mukanya seketika berubah merah padam karena malu. Tapi ya peduli setan, lagipula salah dia sendiri yang muter-muter tidak <em>to the point<\/em>! Kalau cuma ingin tahu aku jomblo atau tidak, kenapa harus pakai mukadimah soal mantan segala, coba? <em>(tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Singkat cerita, hari itu waktu terasa berlalu cepat sekali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di balik kelakuannya yang agak ajaib, aku sangat menghargai cara ApelMerah memperlakukan pertemuan pertama kami. Sepanjang ngobrol, dia benar-benar tidak menyentuh ponselnya sama sekali. Hal sepele memang, tapi hal kecil seperti itu sukses mencuri hatiku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ditambah lagi, dia tipe orang yang gampang sekali tersenyum. Aku melempar lelucon receh, dia tertawa. Aku bertingkah konyol sedikit, dia tersenyum manis. <em>He was so damn cute!<\/em> Bahkan saat aku bersikap bodoh pun dia tetap tertawa. Aku memang paling tidak bisa tahan dengan pria yang murah senyum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>(Catatan masa depan: Sekarang setelah menikah dia memang masih gampang tertawa sih, tapi kadar imutnya sudah menguap entah ke mana!)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan satu hal lagi yang bikin aku makin kelabakan di hari itu&#8230; cara ApelMerah menatap langsung ke mataku&#8230; <em>Fix<\/em>, sukses bikin meleleh!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia terus menatapku sepanjang obrolan, tanpa ada canggung atau grogi sedikit pun. Heran. Jangan-jangan dia memang spesialis kencan tersembunyi (<em>blind date<\/em>) yang sudah terlatih?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dulu, tatapan seperti itu sukses membuatku meleleh, terdiam gagu, dan tersipu malu. Tapi ya&#8230; itu <em>dulu<\/em>. Sekarang, kalau ApelMerah berani-beraninya menatapku dengan gaya sok misterius begitu lagi, refleks yang keluar paling-paling: <em>&#8220;APA LIAT-LIAT?!&#8221;<\/em> Ah, indahnya realita kehidupan pernikahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selesai makan, kami tidak langsung pulang. Kami sempat mengobrol sekitar satu hingga dua jam, kali ini bertukar cerita tentang keluarga. Lebih tepatnya, dia yang paling dominan bercerita. Dia membuka semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi, termasuk pekerjaan orang tuanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu, di tengah cerita, kalimat itu keluar dari mulutnya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cDulu keluarga mantanku enggak bisa terima keluargaku. Mungkin karena keluargaku petani biasa&#8230;\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Gosh, seriously?!<\/em> Mantan lagi?! Kenapa hantu para mantan ini terus-menerus muncul di piring makan kami?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tentu saja jiwa kepoku terpanggil. Rasa penasaran langsung membuncah\u2014perempuan seperti apa yang tega membohonginya, sekaligus merendahkan pekerjaan orang tua dari pria se-imut ini?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cIni mantan yang katamu bohongin kamu tadi?\u201d<\/em> tanyaku, mencoba mengonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan santai dia menjawab, <em>\u201cBukan, beda lagi.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>HOLD ON.<\/em> Beda lagi?!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Ooh&#8230;<\/em> ternyata koleksi mantannya banyak juga! Nakal juga ya ini anak!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lucunya, setelah kencan pertama yang berkesan itu&#8230; ApelMerah menghilang bagai ditelan bumi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Satu pesan pun tidak ada! Jangankan menelpon, pesan basa-basi standar seperti <em>\u201cMakasih ya buat hari ini\u201d<\/em> pun tidak mampir ke layar ponselku. Hilang. <em>Gone.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Insecurity-ku yang belum sembuh total langsung kambuh lagi. <em>Am I that ugly?<\/em> Muka rasanya ditarik ke bawah karena gondok setengah mati. Maksudku, terlepas dari bakal jadi pacaran atau tidak, setidaknya kabar-kabari sedikit, dong! Ini mah begitu mengantarku kembali ke kos, dia langsung bertrans transformasi jadi siluman. Bikin sebal!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah, di sela-sela era ketidakjelasan ApelMerah ini, sempat masuk laki-laki lain dalam radar hidupku: sebut saja Mas Inova, yang datang lewat jalur taaruf. Tapi kisah Mas Inova aku pisahkan di bab tersendiri ya, biar tidak tumpang tindih\u2014kasihan aku dari masa depan nanti bingung kalau baca ulang catatan ini!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dua minggu berlalu dalam keheningan total. Tiba-tiba, denting BBM milikku berbunyi. Satu pesan baru dari ApelMerah:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cLagi ngapain, dek?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>SERIOUSLY?!<\/em> Dek lagi, dek lagi! Setelah dua minggu menghilang tanpa jejak?!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cHallo mas, woee muncul juga anaknya! Lagi shift pagi nih,\u201d<\/em> balasku dengan gaya seruduk andalan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cOalah. Aduh gimana ya&#8230; Minggu kemarin sebenarnya mau main lagi ke sana tapi ternyata ada lemburan. Minggu besok juga ada kondangan. Padahal pengin banget main ke sana lagi.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Well&#8230;<\/em> dua minggu menghilang memang bikin sebal, tapi membaca pengakuannya barusan, hatiku melunak juga. Setidaknya, dalam kepala pria ini ada niat untuk mengunjungiku setiap minggu. Ada effort untuk memikirkan &#8220;kapan bisa main ke sini lagi&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan jujur saja, perjuangan ApelMerah untuk menemuikanku itu patut diberi penghargaan khusus. Jarak antar-kota kami jauh dan medannya tidak main-main. Memang sih dia tidak perlu mendaki gunung melewati lembah seperti Ninja Hatori, tapi jalan raya utama yang harus dia tempuh itu rusaknya minta ampun\u2014penuh lubang dan dipadati truk-truk monster pembawa muatan berat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kenapa tidak lewat jalan tol? Ya karena dia tidak punya mobil!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia rela bolak-balik menunggangi motor matic-nya. Modal jaket tipis, tanpa sarung tangan, tanpa kaos kaki. Naik motor dua jam berangkat dan dua jam pulang\u2014total empat jam menerjang panas terik, adu nyawa beriringan dengan truk pengangkut semen&#8230; cuma demi menengokku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Coba beritahu aku&#8230; perempuan mana yang tidak bakal meleleh kalau diperjuangkan seperti itu?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah pertemuan kedua itu, frekuensi bertemunya kami makin intens. Tiap minggu, selalu saja ada cara untuk menyempatkan waktu. Tapi jangan bayangkan ada momen romantis macam di sinetron, tempat dia memegang tanganku sambil bilang, <em>\u201cKamu mau enggak jadi pacarku?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>HAHAHA, BIG NO! GAK ADAA!<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau istilah anak SMA zaman sekarang sih: <strong>HTS<\/strong> alias Hubungan Tanpa Status. Tapi ajaibnya, aku santai-santai saja. Mungkin karena pernah babak belur gagal menikah sebelumnya, aku tidak berani terlalu berharap tinggi atau membayangkan bakal melangkah ke pelaminan bersamanya. Ya sudah, jalani saja. Dinikmati saja prosesnya&#8230; <em>just let it flow.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jujur, sejak dekat dengan ApelMerah, aku mati-matian merombak diri agar tidak jadi cewek menye-menye lagi. Aku berusaha belajar bahagia dengan diriku sendiri. Jadi, saat ApelMerah tiba-tiba hilang tanpa kabar, aku tidak lagi menangis bombay\u2014paling-paling aku pergi main dengan teman kantor. Pokoknya stop jadi cewek yang <em>needy<\/em> dan <em>clingy<\/em>! <em>(Geli sendiri kalau ingat pernah se-manja itu)<\/em>. Aku tidak banyak menuntut dan pantang marah-marah tidak jelas. <em>WOW!<\/em> Percayalah, seorang aku yang bisa berjanji tidak gampang ngamuk itu adalah sebuah keajaiban dunia. <em>Lol.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hingga akhirnya, saat hubungan kami secara alami melangkah ke jenjang yang lebih serius, aku berusaha keras menekan rasa <em>insecure<\/em>. Tapi ya Tuhan&#8230; susah setengah mati! <em>Insecurity<\/em> ini rasanya sudah jadi penyakit bawaan lahir yang belum ditemukan obatnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagaimana tidak makin minder? Wajah ApelMerah <em>pada saat itu<\/em> benar-benar <em>glowing<\/em> maksimal! Ditambah lagi, lingkungan kerjanya dikelilingi cewek-cewek yang kulitnya mulus mengilap bak porselen, ya Allah&#8230; Sementara aku? Bagaikan adonan kue yang gagal mengembang, buthek sekali!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>[muka mewek menangis bombay di pojokan]<\/em> Fix, rasanya makin ciut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah, bicara soal <em>ke-glowing-an<\/em> wajah ApelMerah masa itu, ada fakta kocak yang baru dia akui setelah kami resmi menikah. Ternyata, tiap kali mau ketemuan denganku, dia sengaja beli baju baru! Tidak cuma itu, dia juga rajin beli masker wajah\u2014bahkan kadang meracik maskernya sendiri. Dia bakal heboh dan panik setengah mati kalau mendadak tumbuh satu jerawat di mukanya H-1 ketemuan darurat denganku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Hahaha!<\/em> Tapi dipikir-pikir, aku juga tidak kalah heboh, sih. Tiap malam sebelum ketemu ApelMerah, aku bakal pusing memilih baju terbaik, kadang sengaja beli baju baru, lipstik baru, sampai bedak baru. Semuanya demi tampil sempurna di depan pria ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi tahu apa tanggapan ApelMerah saat melihat hasil dandan maksimal milikku?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cKamu belum mandi, ya?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KAMPRET!<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum hal itu terjadi, aku sudah mewanti-wanti diriku sendiri untuk tidak sesumbar (<em>show off<\/em>) tentang ApelMerah di depan Bapak dan Ibu. Nanti-nanti sajalah kalau ApelMerah sudah menunjukkan tanda-tanda keseriusan yang nyata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebab, meskipun dia rela berkorban dan \u201cmenerjang ombak\u201d demi menemuiku\u2014<em>halah, lebay, padahal tidak segitunya juga sih!<\/em>\u2014tetap saja belum ada aba-aba dia bakal mengajakku menikah. Hubungan kami masih sebatas &#8220;pacaran yuk&#8221;. <em>Ya ampun, di usiamu yang sekarang, sekadar pacaran doang apa yang mau dipamerkan ke orang tua?!<\/em> Jadi, sebisa mungkin aku merahasiakan kedekatan ini dari orang tuaku. Daripada nanti Bapak mendadak nekat melabrak rumah ApelMerah dan menagih akad? <em>(Masih ingat kan waktu Bapak pernah memaksaku nikah siri sama Kumbang dulu? Trauma, Sis!)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi dasar nasib, Bapak ternyata dapat &#8220;bocoran&#8221; dari orang lain soal keddekatanku dengan ApelMerah. <em>Agh, geram sekali!<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Begitu Bapak datang berkunjung ke kota tempatku kerja, beliau langsung menembakku tanpa aba-aba: <em>\u201cCoba telepon si ApelMerah sekarang. Suruh dia makan bareng Bapak. Mau tidak? Kalau tidak mau, berarti dia tidak serius!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mau mengapain coba?! <em>\u201cEnggak mau, ah. Lagian belum terlalu dekat juga,\u201d<\/em> tolakku beralasan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wajar dong! Waktu itu kami baru ketemu dua kali. Obrolan pun masih seputar hal-hal umum. Rasanya sangat tidak etis dan bikin jantungan kalau dia tiba-tiba ditodong diajak &#8220;makan bareng calon mertua&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cLoh! Ya biar tahu dia serius atau tidak sama kamu,\u201d<\/em> desak Bapak tak mau kalah. <em>\u201cBapak ini laki-laki. Bapak tahu apa yang dipikirkan laki-laki. Kalau dia memang serius sama kamu, pasti dia bela-belain mau ketemu sama orang tuamu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ambisius sekali beliau ingin melihat anak perempuannya ini cepat-cepat laku. Padahal usiaku saat itu masih 23\u201324 tahun, lho. Halo?! Bukan perawan tua juga, kan?!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saking sengitnya perdebatan kami, sempat ada adegan dramatis di mana Bapak menghentikan mobil secara mendadak di pinggir jalan raya. Katanya beliau gemas setengah mati denganku. Beliau ngotot menyuruhku menelepon ApelMerah, sementara aku tidak kalah <em>keukeuh<\/em> menolak. Alasan Bapak tetap sama: \u201cBapak cuma mau ngetes, dia serius atau tidak?!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Ya Allah&#8230;<\/em> lagipula kalaupun dia belum serius, terus kenapa sih? Haduh! Yang menjalani siapa, yang kebelet ingin ketemu siapa!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada akhirnya, aku menyerah dan menurut\u2014<em>persetan<\/em>, daripada harus melanjutkan perdebatan tak berujung di tepi jalan raya yang bising.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan jemari yang sedikit gemetar, kubuka aplikasi pesan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cHai. Lagi di mana?\u201d<\/em> tanyaku, mencoba terdengar senormal mungkin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cHai. Lagi di kos, baru pulang kerja. Kenapa?\u201d<\/em> balas ApelMerah tak berapa lama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cTerus habis ini ada rencana ke mana?\u201d<\/em> Pancingan pertama dilemparkan. Aku harus memastikan dulu bahwa dia tidak punya agenda lain, sehingga tidak ada alasan untuk mengelak. Firasatku sudah tidak enak; aku tahu betul tipe pria seperti ApelMerah pasti akan berusaha menghindar dari situasi &#8220;sidang dadakan&#8221; seperti ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cBelum tahu. Belum ada rencana,\u201d<\/em> jawabnya polos.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Bingo.<\/em> Jebakan Batman berhasil. Tapi justru di sinilah debar dadaku makin tak karuan. Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberanian, kuketik kalimat penentu itu:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cAku lagi bareng Bapak dan Ibu, nih. Mau diajak makan bareng. Kamu mau bergabung?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibu jari menggantung di atas layar. Ada setitik harapan yang membuncah\u2014mencoba berharap bahwa ApelMerah mendadak memiliki seribu keberanian untuk menemui Bapak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Satu menit&#8230; dua menit&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pesan itu berstatus <em>read<\/em>, tetapi jawaban tak kunjung datang. Keheningan itu merayap menyiksa. Aku bisa membayangkan pikirannya yang sedang berputar keras mencari celah untuk meloloskan diri. Dan benar saja, tebakanku tak meleset ketika balasan yang ditunggu akhirnya muncul:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cYah, maaf ya&#8230; aku terlanjur diajak ke kota S sama Shrek.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Tuh, kan! Apa kubilang!<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seketika rasa dongkol membumbung tinggi. Kenapa, sih, laki-laki di dunia ini rasanya menyebalkan semua? Tidak Bapak, tidak juga ApelMerah! Yang satu kelewat kepo dan memaksa, yang satu lagi diajak makan saja sudah mundur teratur. Kekesalanku yang tadinya mengarah pada Bapak, seketika berbalik sepenuhnya pada ApelMerah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari itu, sebuah simpulan pahit langsung terpatri di kepalaku: <em>ya sudah, berarti dia memang bukan jodohku.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kata <em>&#8220;Bye, ApelMerah&#8221;<\/em> seolah bergema di benak. Pikiran buruk (<em>negative thinking<\/em>) langsung menguasai seluruh prasangkaku padanya. Padahal, kalau kupikirkan lagi saat ini dengan kepala dingin&#8230; di balik penolakannya, ApelMerah mungkin hanya sedang didera <em>insecurity<\/em> yang teramat dalam atas latar belakang keluarganya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan Bapak&#8230; yah, Bapak memang selalu punya cara tersendiri untuk memicu drama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apalagi hal spesial yang selalu membawaku kembali ke kenangan tentang ApelMerah?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku ingat betul, masa-masa PDKT kami diwarnai oleh satu lagu yang tak henti-hentinya kuputar di putaran berulang: <em>&#8220;Kun Anta&#8221;<\/em>. Lagu itu seolah jadi <em>soundtrack<\/em> wajib di setiap momen memikirkannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain lagu itu, ada satu memori masa lalu yang terpatri sangat identik dengan sosoknya: fitur <strong>PING!!!<\/strong> di BlackBerry Messenger.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Hahaha.<\/em> Kebiasaan ApelMerah kalau mengirim pesan BBM memang ajaib. Dia hampir tidak pernah mengawali dengan salam atau kata puji-pujian manis. Alih-alih bilang &#8220;Assalamu&#8217;alaikum&#8221; atau sekadar &#8220;Halo&#8221;, dia akan langsung mengirim <strong>PING!!!<\/strong> berturut-turut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi anehnya, bunyi nyaring dari <em>smartphone<\/em>-ku saat <strong>PING!!!<\/strong> itu masuk terasa seperti <em>ringtone<\/em> cinta yang mendebarkan. Setiap kali nada itu meletup, aku yang tadinya sedang berbaring santai langsung gercep\u2014melompat dari tempat tidur demi bisa secepatnya membaca pesan darinya. Ada letup kebahagiaan yang membuncah begitu saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Cieee&#8230;<\/em> Tapi ingat, itu DULU ya! Dulu sekali! Kalau sekarang nada pesan masuk dari dia berbunyi? <em>B aja, tuh.<\/em> \ud83d\ude1b<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Satu kata <strong>PING!!!<\/strong> itu menyimpan sejuta bahasa yang tersirat\u2014kehadiran rasa rindu, ketidaksabaran yang menggebu, hingga salam hangat yang tak terucapkan. Bagi diriku yang dulu, dering tunggal itu adalah panggilannya yang paling manis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kini, BlackBerry Messenger hanya tinggal jejak dalam ingatan. Zaman telah berganti, dan aplikasi itu telah lama redup ditelan masa. Padahal, di sanalah rekaman paling jujur dari awal mula kisah kami tersimpan. Aku teringat bagaimana dulu aku kerap mengganti foto profil hanya demi menarik perhatiannya\u2014dan seperti yang kuharapkan, dia akan selalu hadir memberikan tanggapan. Sensasi menunggu perubahan kecil dari huruf <strong>&#8216;D&#8217;<\/strong> menjadi <strong>&#8216;R&#8217;<\/strong> di sudut layar&#8230; betapa sederhananya arti sebuah kebahagiaan saat itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Catatan untuk Diriku di Masa Depan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jika kelak ada hari-hari di mana dadamu diliputi jengkel, kecewa, atau amarah pada ApelMerah&#8230; tolong jedakan langkahmu sejenak, lalu ingatlah kembali musim ini.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Ingatlah betapa pernah ada masa ketika hatimu bergetar hebat hanya untuk menantikan kabar darinya, bahkan sebelum kepastian itu ada. Ingatlah bahwa ia pernah menjelma sosok yang begitu romantis\u2014dengan caranya yang paling sederhana.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Sebab cinta yang utuh tak selalu diukur dari seikat bunga atau bait-bait puisi manis. Kehadirannya yang tak pernah absen, keteguhannya menempuh empat jam perjalanan berdebu yang melelahkan demi menatap matamu&#8230; itu adalah bentuk romansa paling sejati yang pernah kau miliki.<\/em><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-pullquote\"><blockquote><p><strong>Catatan untuk Diriku di Masa Depan:<\/strong><\/p><cite><em>Jika kelak ada hari-hari di mana dadamu diliputi jengkel, kecewa, atau amarah pada ApelMerah. Tolong jedakan langkahmu sejenak, lalu ingatlah kembali musim ini.<\/em><br><em>Ingatlah betapa pernah ada masa ketika hatimu bergetar hebat hanya untuk menantikan kabar darinya, bahkan sebelum kepastian itu ada. Ingatlah bahwa ia pernah menjelma sosok yang begitu romantis\u2014dengan caranya yang paling sederhana.<\/em><br><em>Sebab cinta yang utuh tak selalu diukur dari seikat bunga atau bait-bait puisi manis. Kehadirannya yang tak pernah absen, keteguhannya menempuh empat jam perjalanan berdebu yang melelahkan demi menatap matamu. Itu adalah bentuk romansa paling sejati yang pernah kau miliki.<\/em><\/cite><\/blockquote><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Gresik, 02 Maret 2017<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Kisah ini kucatat semata-mata sebagai penanda jejak perjalanan kami. Sebab aku sadar, suatu hari nanti kami akan membutuhkan ingatan ini kembali. Entah saat badai perselisihan sedang menguji kami, atau sekadar untuk dikenang bersama sewaktu rambut kami mulai memutih kelak.&#8221; Dinni Rossy Dua bulan setelah perpisahan itu\u2014setelah semuanya benar-benar berakhir dengan Kumbang\u2014takdir mempertemukan alur hidupku dengan ApelMerah. Jujur, waktu itu ketakutan menyelimutiku. Ada bisikan cemas bahwa mungkin aku tidak akan pernah sampai ke jenjang pernikahan. Meski jauh di lubuk hati aku percaya Allah selalu menyiapkan takdir yang lebih baik setelah sebuah kehilangan, rasa tidak percaya diri itu tetap saja menggerogoti. Namun, sungguh aku tak menyangka, penawar itu datang jauh lebih cepat dari yang kubayangkan. Jika diingat kembali, tanpa perpisahan dengan Kumbang, aku tidak akan pernah berada di titik ini. Tidak akan pernah bertemu dengan ApelMerah. Semuanya bermula dua bulan pasca-perpisahan. Seorang kerabat dekat yang merasa iba melihat duka dan kegagalan yang kutanggung, berniat menjodohkanku dengan seseorang. Jawaban pertamaku? Tentu saja menolak. Hatiku terlalu lebam untuk kembali memulai. Aku kehilangan rasa percaya diri; merasa tak cukup menarik, merasa tak pernah pandai menjalin hubungan dengan pria. Terlebih, kata-kata penutup dari Kumbang masih menancap tajam di ingatan: \u201cSelama kita berjalan bersama, aku tidak pernah punya rasa sama kamu. Maaf.\u201d Sebuah kebohongan, pikirku. Sebab dari tiap tatapan dan sikapnya dulu, aku bisa merasakan apa yang ia rasa. Namun, terlepas dari apakah ucapan itu jujur atau tidak, dampaknya tetap sama: mentalku hancur berkeping-keping. Karena itulah, ketika niat mengenalkanku pada ApelMerah disampaikan, reaksi pertamaku adalah menghindar. Aku takut. Aku trauma membayangkan jika pria ini pun nantinya hanya terpaksa menerimaku\u2014seperti yang dilakukan Kumbang dulu. Namun, takdir selalu punya jalannya sendiri yang tak tertebak\u2014dan jujur saja, agak absurd. Di masa itu, ketika BlackBerry Messenger masih menjadi rajanya media komunikasi, tiba-tiba muncul sebuah undangan pertemanan baru. Alih-alih terpesona, aku justru mengernyitkan dahi. Nama akunnya sangat tidak meyakinkan, lebih mirip akun jualan dibanding profil seorang pria dewasa: &#8220;ApelMerah-0812xxxxxxxx whatsapp only&#8221; Khas sekali seperti kontak online shop yang biasa menebar spam, bukan? Karena enggan memenuhi daftar kontakku dengan promosi barang yang tidak perlu, undangan itu kudiamkan begitu saja. Sampai akhirnya, saudaraku memberi kabar bahwa itu adalah kontak pria yang ingin ia kenalkan. Otakku seketika membeku. Jadi, calon jodohku ini menggunakan nama profil ala sales grosiran? Dengan sedikit menahan tawa dan menepis canggung, barulah aku membuka kembali BBM, lalu menekan tombol approve. Tak lama setelah itu, sebuah pesan masuk. Dia menyapa duluan, memulai perkenalan dengan cukup luwes. Damn, he actually had the guts. Kalau mengingat sifat aslinya sekarang, aku masih sering tidak percaya dia pernah seberani itu mendekati cewek duluan. Percakapan kami mengalir santai. Aku membalas pesannya tanpa berniat &#8220;jual mahal&#8221;\u2014seriously, playing hard to get is so yesterday. Lagipula, sekadar bertemu kan bukan berarti langsung berkomitmen, bukan? Sampai pada satu titik, dia menyampaikan niatnya untuk berkunjung ke kotaku. Tanpa berpikir panjang, aku menyetujuinya. Namun, dasar ApelMerah\u2014pria yang belakangan kubertahu memang tergolong irit bicara di chat\u2014setelah bilang mau datang, dia malah menghilang begitu saja. Ghosting mid-PDKT? Nice move, Bro. Lalu tiba-tiba, tanpa babibu, pesan berikutnya muncul: \u201cBesok sore aku ke sana ya, kita ketemuan, boleh?\u201d \u201cJam berapa?\u201d tanyaku. \u201cSepuluh pagi aja.\u201d Tunggu, tadi katanya sore? Make up your mind, please! Tapi ya sudahlah, maklum. Jarak antar-kota kami memakan waktu sekitar dua jam perjalanan. Karena dia mengendarai sepeda motor, wajar saja dia ragu kalau harus jalan sore\u2014bisa-bisa dia kemalaman saat perjalanan pulang. \u201cOke,\u201d balasku singkat, menutup kesepakatan pertemuan pertama kami. Besoknya, ApelMerah benar-benar membuktikan ucapannya. Aku pun bersiap\u2014pilih baju secukupnya dan dandan seadanya, persis seperti mau nongkrong dengan teman lama. Padahal idealnya, blind date begini sukses bikin jantung mau copot. Tapi heran, menyambut kedatangan ApelMerah, perasaanku santai-santai saja. Zero pressure, surprisingly. Lalu layar ponselku menyala, memperlihatkan sebuah pesan darinya: \u201cAku berangkat ya, DEK.\u201d Wait&#8230; WHAT?! Dia memanggilku &#8220;DEK&#8221;? Oh, come on! Rasanya sudah lama sekali tidak mendengar panggilan itu, sampai-sampai ada getaran hangat dan rindu yang diam-diam menyelinap. (Ironisnya, sekarang kalau disuruh panggil &#8220;Dek&#8221; lagi dia malah sok malu-malu kucing, padahal kebiasaan manggil &#8220;Sayang&#8221; terus!) Beberapa saat kemudian, dia sampai. Tapi bukannya menjemput manis di depan pagar kos, pria ini malah memarkirkan motor bututnya di pinggir jalan raya. Gosh, gengsi atau malas, nih? Muka rasanya langsung datar penuh kekesalan. Alhasil, aku harus rela berjalan cukup jauh menyusuri gang demi menemuinya. Singkat cerita, aku pun naik ke boncengan untuk mencari tempat makan yang enak buat ngobrol. Demi momen ini, aku sengaja pakai rok\u2014sok tampil feminin dan manis. Tapi ya ampun, lesson learned: pakai rok saat naik motor itu menyiksa! Ujung kainnya berkali-kali tersangkut di roda, ditambah aku sempat tersandung pula. Rasanya ingin menepok jidat sendiri karena keputusasaan ini. Ujian belum berhenti di situ. Jam 10 pagi, mencari tempat makan yang buka di daerah kosku ternyata hil yang mustahil. Mayoritas di sana adalah kafe hits yang baru menggeliat di atas jam tiga sore. Setelah putar-putar tidak jelas, akhirnya pilihan pasrah jatuh pada sebuah kedai makan, W*ng So. Kami masuk, memesan makanan, lalu duduk saling berhadapan. Di titik inilah, untuk pertama kalinya aku menatap wajahnya dari jarak dekat. Dan&#8230; well, I hate to admit it, but ApelMerah ternyata lumayan cakep! Bikin mata ini seketika berbinar-binar. Tapi ingat, itu DULU ya! Dulu sekali! Entah kenapa kalau dilihat sekarang, kok rasanya sudah biasa saja&#8230; Kami pun mulai mengobrol. Dan tebak topik pertama yang dia angkat? Mantan. Unbelievable. Pertama kali bertemu, topik utamanya benar-benar soal mantannya sendiri! Aneh sekali. Padahal seingatku, kebanyakan pria biasanya paling anti membahas mantan saat kencan pertama. Aku saja yang dari tadi menahan diri supaya tidak terdengar kepo, eh&#8230; dia malah dengan sukarela membuka kartu. \u201cAku dulu pernah dekat sama cewek,\u201d ceritanya tanpa beban. \u201cEh, enggak tahunya dia udah punya cowok. Padahal dari awal ngakunya jomblo.\u201d Sementara dia asyik mendongeng, aku cuma mengangguk-angguk sok menyimak. Sejujurnya, fokusku terdistraksi total. Aku tidak terlalu mendengarkan ceritanya karena sibuk memperhatikan wajahnya. Gosh, he was cute. Ada manis-manisnya begitu, bikin susah fokus. \u201cPasti cantik ya, sampai kamu susah move on begitu?\u201d pancingku, pura-pura polos padahal jiwa kepoku sudah meronta-ronta menuntut kejelasan. \u201cIya, cantik sih. Tapi kalau dari awal udah bohong, ya udah lah, enggak usah dilanjutin,\u201d jawabnya santai. \u201cAkhirnya kami putus. Maksudku, kalau udah punya pacar ya jujur aja, enggak usah ngaku single.\u201d Aku langsung menyambar kesempatan itu tanpa ragu. \u201cOoh&#8230; tapi kalau aku, beneran masih single kok!\u201d What the hell did I just say?! Mukanya seketika berubah merah padam karena malu. Tapi ya peduli setan, lagipula salah dia sendiri yang muter-muter tidak to the point! Kalau cuma ingin tahu aku jomblo atau tidak, kenapa harus pakai mukadimah soal mantan segala, coba? (tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata) Singkat cerita, hari itu waktu terasa berlalu cepat sekali. Di balik kelakuannya yang agak ajaib, aku sangat menghargai cara ApelMerah memperlakukan pertemuan pertama kami. Sepanjang ngobrol, dia benar-benar tidak menyentuh ponselnya sama sekali. Hal sepele memang, tapi hal kecil seperti itu sukses mencuri hatiku. Ditambah lagi, dia tipe orang yang gampang sekali tersenyum. Aku melempar lelucon receh, dia tertawa. Aku bertingkah konyol sedikit, dia tersenyum manis. He was so damn cute! Bahkan saat aku bersikap bodoh pun dia tetap tertawa. Aku memang paling tidak bisa tahan dengan pria yang murah senyum. (Catatan masa depan: Sekarang setelah menikah dia memang masih gampang tertawa sih, tapi kadar imutnya sudah menguap entah ke mana!) Dan satu hal lagi yang bikin aku makin kelabakan di hari itu&#8230; cara ApelMerah menatap langsung ke mataku&#8230; Fix, sukses bikin meleleh! Dia terus menatapku sepanjang obrolan, tanpa ada canggung atau grogi sedikit pun. Heran. Jangan-jangan dia memang spesialis kencan tersembunyi (blind date) yang sudah terlatih? Dulu, tatapan seperti itu sukses membuatku meleleh, terdiam gagu, dan tersipu malu. Tapi ya&#8230; itu dulu. Sekarang, kalau ApelMerah berani-beraninya menatapku dengan gaya sok misterius begitu lagi, refleks yang keluar paling-paling: &#8220;APA LIAT-LIAT?!&#8221; Ah, indahnya realita kehidupan pernikahan. Selesai makan, kami tidak langsung pulang. Kami sempat mengobrol sekitar satu hingga dua jam, kali ini bertukar cerita tentang keluarga. Lebih tepatnya, dia yang paling dominan bercerita. Dia membuka semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi, termasuk pekerjaan orang tuanya. Lalu, di tengah cerita, kalimat itu keluar dari mulutnya: \u201cDulu keluarga mantanku enggak bisa terima keluargaku. Mungkin karena keluargaku petani biasa&#8230;\u201d Gosh, seriously?! Mantan lagi?! Kenapa hantu para mantan ini terus-menerus muncul di piring makan kami? Tentu saja jiwa kepoku terpanggil. Rasa penasaran langsung membuncah\u2014perempuan seperti apa yang tega membohonginya, sekaligus merendahkan pekerjaan orang tua dari pria se-imut ini? \u201cIni mantan yang katamu bohongin kamu tadi?\u201d tanyaku, mencoba mengonfirmasi. Dengan santai dia menjawab, \u201cBukan, beda lagi.\u201d HOLD ON. Beda lagi?! Ooh&#8230; ternyata koleksi mantannya banyak juga! Nakal juga ya ini anak! Lucunya, setelah kencan pertama yang berkesan itu&#8230; ApelMerah menghilang bagai ditelan bumi. Satu pesan pun tidak ada! Jangankan menelpon, pesan basa-basi standar seperti \u201cMakasih ya buat hari ini\u201d pun tidak mampir ke layar ponselku. Hilang. Gone. Insecurity-ku yang belum sembuh total langsung kambuh lagi. Am I that ugly? Muka rasanya ditarik ke bawah karena gondok setengah mati. Maksudku, terlepas dari bakal jadi pacaran atau tidak, setidaknya kabar-kabari sedikit, dong! Ini mah begitu mengantarku kembali ke kos, dia langsung bertrans transformasi jadi siluman. Bikin sebal! Nah, di sela-sela era ketidakjelasan ApelMerah ini, sempat masuk laki-laki lain dalam radar hidupku: sebut saja Mas Inova, yang datang lewat jalur taaruf. Tapi kisah Mas Inova aku pisahkan di bab tersendiri ya, biar tidak tumpang tindih\u2014kasihan aku dari masa depan nanti bingung kalau baca ulang catatan ini! Dua minggu berlalu dalam keheningan total. Tiba-tiba, denting BBM milikku berbunyi. Satu pesan baru dari ApelMerah: \u201cLagi ngapain, dek?\u201d SERIOUSLY?! Dek lagi, dek lagi! Setelah dua minggu menghilang tanpa jejak?! \u201cHallo mas, woee muncul juga anaknya! Lagi shift pagi nih,\u201d balasku dengan gaya seruduk andalan. \u201cOalah. Aduh gimana ya&#8230; Minggu kemarin sebenarnya mau main lagi ke sana tapi ternyata ada lemburan. Minggu besok juga ada kondangan. Padahal pengin banget main ke sana lagi.\u201d Well&#8230; dua minggu menghilang memang bikin sebal, tapi membaca pengakuannya barusan, hatiku melunak juga. Setidaknya, dalam kepala pria ini ada niat untuk mengunjungiku setiap minggu. Ada effort untuk memikirkan &#8220;kapan bisa main ke sini lagi&#8221;. Dan jujur saja, perjuangan ApelMerah untuk menemuikanku itu patut diberi penghargaan khusus. Jarak antar-kota kami jauh dan medannya tidak main-main. Memang sih dia tidak perlu mendaki gunung melewati lembah seperti Ninja Hatori, tapi jalan raya utama yang harus dia tempuh itu rusaknya minta ampun\u2014penuh lubang dan dipadati truk-truk monster pembawa muatan berat. Kenapa tidak lewat jalan tol? Ya karena dia tidak punya mobil! Dia rela bolak-balik menunggangi motor matic-nya. Modal jaket tipis, tanpa sarung tangan, tanpa kaos kaki. Naik motor dua jam berangkat dan dua jam pulang\u2014total empat jam menerjang panas terik, adu nyawa beriringan dengan truk pengangkut semen&#8230; cuma demi menengokku. Coba beritahu aku&#8230; perempuan mana yang tidak bakal meleleh kalau diperjuangkan seperti itu? Setelah pertemuan kedua itu, frekuensi bertemunya kami makin intens. Tiap minggu, selalu saja ada cara untuk menyempatkan waktu. Tapi jangan bayangkan ada momen romantis macam di sinetron, tempat dia memegang tanganku sambil bilang, \u201cKamu mau enggak jadi pacarku?\u201d HAHAHA, BIG NO! GAK ADAA! Kalau istilah anak SMA zaman sekarang sih: HTS alias Hubungan Tanpa Status. Tapi ajaibnya, aku santai-santai saja. Mungkin karena pernah babak belur gagal menikah sebelumnya, aku tidak berani terlalu berharap tinggi atau membayangkan bakal melangkah ke pelaminan bersamanya. Ya sudah, jalani saja. Dinikmati saja prosesnya&#8230; just let it flow. Jujur, sejak dekat dengan ApelMerah, aku mati-matian merombak diri agar tidak jadi cewek menye-menye lagi. Aku berusaha belajar bahagia dengan diriku sendiri. Jadi, saat ApelMerah tiba-tiba hilang tanpa kabar, aku tidak lagi menangis bombay\u2014paling-paling aku pergi main dengan teman kantor. Pokoknya stop jadi cewek yang needy dan clingy! (Geli sendiri kalau ingat pernah se-manja itu). Aku tidak banyak menuntut dan pantang marah-marah tidak jelas. WOW! Percayalah, seorang aku yang bisa berjanji tidak gampang ngamuk itu adalah sebuah keajaiban dunia. Lol. Hingga akhirnya, saat hubungan kami secara alami melangkah ke jenjang yang lebih serius, aku berusaha keras menekan rasa insecure. Tapi ya Tuhan&#8230; susah setengah mati! Insecurity ini rasanya sudah jadi penyakit bawaan lahir yang belum ditemukan obatnya. Bagaimana tidak makin minder? Wajah ApelMerah pada saat itu benar-benar glowing maksimal! Ditambah lagi, lingkungan kerjanya dikelilingi cewek-cewek yang kulitnya mulus mengilap bak porselen, ya&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1981","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ma-lyfe"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dinnirossy.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1981","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dinnirossy.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dinnirossy.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinnirossy.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinnirossy.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1981"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/dinnirossy.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1981\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1991,"href":"https:\/\/dinnirossy.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1981\/revisions\/1991"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dinnirossy.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1981"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinnirossy.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1981"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinnirossy.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1981"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}