-
Kavi: Sebuah Perjamuan Pengabaian
Kavi adalah putra sulung istriku—warisan dari masa lalunya yang kuterima dengan tangan terbuka, atau setidaknya begitulah aku meyakinkan diriku sendiri saat itu. Kami bertemu di sebuah kafe yang aromanya masih bisa kuingat; saat itu dia baru berusia tujuh tahun, seorang bocah dengan wajah yang dipahat begitu elok, bersih, dan penuh vitalitas. Ketampanannya tidak mengejutkanku, karena ibunya adalah personifikasi dari kecantikan itu sendiri. Pernikahan pun terjadi. Aku melangkah ke dalam peran sebagai suami sekaligus ayah dengan kepercayaan diri yang hampir naif. Aku percaya aku mencintai Kavi, dengan intensitas yang sama besarnya dengan cintaku pada ibunya. “Bapak,” bisiknya, sebuah panggilan yang awalnya terdengar seperti musik. Ia akan bergelayut manja, mengadu tentang ketegasan…
-
Selingkuh Pada Waktunya
Beberapa hari lalu ada salah satu teman yang cerita kalau, calon suaminya selingkuh. Sebut saja Kinar. Beberapa bulan lagi Kinar dan mas Z menikah. “Mas Z selingkuh huhuhu, dia ngaku sendiri” Kinar mengawali cerita sambil nangis sesenggukan. Aku yang lagi PMS serta merta ngerespon ” HAHHHH. SUMPAH” dih kenapa aku lebay banget ya waktu itu. Padahal kan sebelum aku menikah, belajar bab selingkuh nya udah hatam. “Aku mau labrak pelakornya!! Ku maki-maki sekalian biar tau rasa” dibayanganku, badan Kinar naik turun sebab nahan emosi yang muncak di ubun-ubun. “Iya labrak aja sanaa labrak. Mau aku bantuin nggak ini? Hih gila, emosi gue!!” aku yang kesetanan malah ngasih semangat dia buat…
-
Catatan hitam : Di Balik Tirai Pernikahan
Sore itu, mendung seolah pindah ke wajah Gadis. Sahabatku yang biasanya meledak-ledak dengan tawa itu datang membawa sepi yang ganjil. Ia duduk bersandar, namun punggungnya tampak rapuh, seolah beban yang ia pikul lebih berat dari gravitasi bumi. ”Suamiku… sepertinya dia selingkuh,” bisiknya pelan.