• Throwback

    Bayang-Bayang di Persimpangan Takdir

    Di antara sela-sela penantianku yang tak pasti akan sosok Mas Irul, ia hadir tanpa permisi. Namanya Inova. Kala itu, komunikasi dengan Mas Irul sedang berada di titik nadir—hening tanpa kabar. Maka, ketika ada tawaran untuk menjalani taaruf dengan Inova, aku mengiyakannya. Kami bertukar curriculum vitae, sebuah prosedur formal yang terasa ganjil namun mendebarkan. Aku harus jujur pada diri sendiri: saat itu aku hanyalah seorang gadis muda yang terlalu naif, seorang “cewek menye-menye” yang begitu terobsesi dengan ide tentang pernikahan hingga mengabaikan logika. ​Pikiranku sederhana, mungkin terlalu sederhana: Siapa pun yang lebih dulu mengetuk pintu rumah Ayah, dialah yang akan kuterima sebagai takdir. ​Setelah pertukaran profil itu, Mas Inova tampaknya menaruh…

  • Cerita tentang Kita

    Labirin Kepatuhan

    Akhir tahun 2016 menjadi sebuah titik balik yang pahit. Di sanalah aku akhirnya tersadar akan sebuah kebenaran yang selama ini terkubur di bawah dogma kepatuhan: tidak semua keputusan orang tua berbuah manis, dan tidak semua pendapat mereka adalah kebenaran mutlak. ​Mari kita sebut dia Mas Kumbang. ​Ia adalah seorang guru musik yang mengajar adikku, yang biasa kupanggil dengan nama kesayangan, Kacang Atom. Mas Kumbang bukan sekadar pengajar biasa; ia adalah pemilik sekolah musik satu-satunya di pulau terpencil ini—sebuah monumen ambisi yang, ironisnya, justru lebih banyak dipupuk oleh keinginan ayahku daripada keinginan siapa pun. ​Pertemuanku dengannya bukanlah sebuah kebetulan romantis di bawah rintik hujan. Tidak. Kami adalah bidak dalam papan catur…