Kavi: Sebuah Perjamuan Pengabaian
Kavi adalah putra sulung istriku—warisan dari masa lalunya yang kuterima dengan tangan terbuka, atau setidaknya begitulah aku meyakinkan diriku sendiri saat itu. Kami bertemu di sebuah kafe yang aromanya masih bisa kuingat; saat itu dia baru berusia tujuh tahun, seorang bocah dengan wajah yang dipahat begitu elok, bersih, dan penuh vitalitas. Ketampanannya tidak mengejutkanku, karena ibunya adalah personifikasi dari kecantikan itu sendiri.
Pernikahan pun terjadi. Aku melangkah ke dalam peran sebagai suami sekaligus ayah dengan kepercayaan diri yang hampir naif. Aku percaya aku mencintai Kavi, dengan intensitas yang sama besarnya dengan cintaku pada ibunya.
“Bapak,” bisiknya, sebuah panggilan yang awalnya terdengar seperti musik. Ia akan bergelayut manja, mengadu tentang ketegasan ibunya yang sesekali pecah menjadi bentakan. Aku adalah tempat perlindungannya.
Namun, waktu memiliki cara yang kejam untuk mengikis idealisme. Berbulan-bulan kemudian, aku mulai merasakan beban yang tak kasat mata. Tidak ada manual yang mengajarkan cara menjinakkan “bayi besar” ini. Maka, aku memilih jalan pintas yang elegan: pengabaian yang difasilitasi. Aku membiarkan hari-hari mengalir seperti sungai yang tenang namun menghanyutkan. Sekolah, makan yang kusuapkan hanya agar ia diam, dan tentu saja, sebuah iPad—sebuah pengasuh elektronik yang memungkinkanku bercumbu dengan layar laptopku tanpa gangguan. Sementara itu, istriku menjadi bayangan yang berangkat saat fajar dan kembali saat senja telah mati.
Setahun kemudian, Kirana lahir. Seorang gadis kecil yang seolah-olah ditenun dari cahaya bulan, begitu mirip dengan ibunya. Kebahagiaan kami meluap saat aku membisikkan azan di telinganya, sementara Kavi berdiri di sudut ruang pemulihan, berdendang pelan, seolah nyanyiannya adalah mantra tidur bagi ibunya.
Aku bersumpah akan tetap mencintai Kavi. Namun, janji adalah mata uang yang murah. Kavi mulai menjadi anomali; gerak-geriknya yang kikuk terkadang melukai Kirana. Maka, aku melakukan “pembersihan”. Kavi diasingkan ke kamar sebelah, dikurung bersama iPad kesayangannya.
“Bapak, lapar…”
“Bapak, mana iPad-ku?”
“Bapak, main yuk?”
Suara-suara itu hanyalah derau latar belakang saat aku terpaku pada pekerjaanku, sementara Kirana terlelap dalam dekapanku. Aku hanya menatapnya dengan tatapan dingin, sebuah isyarat tanpa kata yang berkata: Ambil makanmu di lemari. Pergilah dan jangan mengusik kami.
Bulan demi bulan, Kavi mulai memuai. Tubuhnya membengkak secara tidak sehat akibat isolasi dan konsumsi tanpa kendali. Istriku mulai kehilangan kesabaran; ia meneriaki rasa lapar Kavi seolah itu adalah dosa besar. Aku pun mulai menirunya. Kami berteriak pada anak itu, meyakinkan diri kami sendiri bahwa kekejaman ini adalah bentuk lain dari kasih sayang.
Hingga suatu pagi di bulan Oktober, suasana pecah. Plak! Tamparanku mendarat di pipinya. Kavi tersungkur, dan kulihat warna merah segar mulai mengalir, mengotori lantai yang dingin.
Hari-hari berlalu dalam gencatan senjata yang rapuh. Kavi pindah ke sekolah internasional, namun ia mulai mengembangkan kebiasaan baru: membolos. Alasannya selalu klise: pusing, mual, sakit perut.
Dokter tidak menemukan diagnosa medis, yang bagi kami hanyalah konfirmasi atas kemalasannya. Amarah kami bersahutan seperti simfoni yang sumbang.
“Sekolah mahal-mahal, kau malah mogok sekolah!” teriak istriku.
Kavi hanya diam. Ia selalu diam di tengah badai emosi kami. Matanya terpaku pada lantai, seolah-olah ia sedang membaca takdirnya di sana. Lalu, dalam keheningan yang menyesakkan itu, terdengar suara gemericik. Lantai ruang makan itu basah oleh air seninya sendiri. Kami mematung dalam kengerian.
Hukuman pun dijatuhkan. Kavi dipaksa mengepel kehinaannya sendiri. Akses ke dunia digital diputus total. Kami meyakinkan diri bahwa ini adalah “ketegasan” yang ia butuhkan. Esoknya, kami menyeretnya ke sekolah meskipun ia tampak seperti narapidana yang menuju tiang gantungan.
Belum tengah hari, panggilan telepon dari sekolah meruntuhkan segalanya. Guru melaporkan bahwa Kavi tidak bisa mengikuti pelajaran. Pandangannya merabun.
“Kenapa kau jadi makin malas begini?” tanyaku, suaraku meninggi karena rasa frustrasi yang memuakkan.
“Bukan malas, Pak. Tapi mata Kavi… mata Kavi sulit melihat,” jawabnya lirih.
“Kembali ke sekolah!” istriku membalas dengan kemarahan yang meluap. Aku tahu itu hanya gertakan dari seorang ibu yang sudah mencapai batas lelahnya.
“Kavi, kalau kamu—”
Kalimatku terputus. Debuggg…
Kavi tumbang. Tubuhnya yang besar itu menggeliat kaku di atas lantai, mengalami kejang yang hebat. Aku mematung, seolah-olah waktu telah berhenti, sementara jeritan istriku menyayat udara, memanggil nama anak yang selama ini kami abaikan.
Kini, di depan ruang PICU yang dingin dan berbau antiseptik, aku hanya bisa melihat istriku terisak. Sebuah tragedi yang kami bangun sendiri, batu demi batu, kini telah runtuh menimpa kami.
***
Di koridor PICU yang dingin, suara isak tangis istriku menjadi satu-satunya melodi yang tersisa. Ia merapalkan kalimat yang sama berulang kali—sebuah mantra pertahanan diri—bahwa segala kekejaman kami selama ini hanyalah manifestasi dari rasa sayang. Namun, dinding rumah sakit tidak bisa dibohongi.
Kebenaran akhirnya datang dalam bentuk diagnosa yang dingin: Tumor Langka Germinoma dan Diabetes Insipidus. Aku tidak butuh gelar medis untuk memahami kehancuranku sendiri. Monster itu bersarang di otaknya, tepat di dekat saraf mata, mencuri penglihatannya secara perlahan. Itulah alasan mengapa ia kesulitan mengejar pelajaran di sekolah.
Itu pula alasan mengapa tubuhnya mengkhianatinya; ia kehilangan kendali atas fungsi kandung kemihnya dan rasa lapar yang tak pernah terpuaskan.
Sementara aku? Aku justru memfasilitasi kehancurannya dengan menyuapnya lewat jajanan manis agar ia diam di kamar. Aku pernah menamparnya hingga hidungnya bersimbah darah, menghakiminya saat ia tak sengaja membasahi lantai. Penyesalan ini terasa seperti menelan serpihan kaca. Namun, istriku—ibu kandungnya—menanggung beban yang jauh lebih berat. Tangannya tak lepas menggenggam jemari Kavi yang kian memucat, sementara napas bocah itu terdengar seperti mesin tua yang mulai kehabisan daya, meski selang-selang oksigen telah terpasang kokoh.
“Harusnya aku tidak sekeras itu… harusnya aku lebih sabar,” ratapnya di sela tangis. “Harusnya saat pulang kerja, wajahnya yang kucari lebih dulu sebelum Kirana. Harusnya kami punya kenangan yang lebih manis dari sekadar bentakan…”
Aku hanya bisa merengkuh tubuh mungilnya, berharap dekapan ini mampu menyampaikan permintaan maaf yang tak sanggup kuucapkan. Melalui video call, suara kerabat terdengar jauh, membisikkan kata “ikhlas” karena mereka tahu Kavi telah mencapai batas lelahnya. Namun, istriku bergeming, terus melantunkan doa ke telinga putra sulungnya.
“Bapak…”
Suara itu sangat lemah, namun cukup untuk menghentikan detak jantungku sejenak. Mata Kavi setengah terpejam, tapi tangannya mencengkeram jemariku dengan sisa kekuatan yang ada.
“Iya, Sayang,” jawabku getir.
“Ibu mana?” tanyanya lirih.
Istriku segera mendekat, menempelkan bibirnya ke telinga Kavi, memastikan anaknya tahu bahwa sang ibu selalu ada di sana. Napas Kavi mulai tersengal secara tidak teratur; angka saturasi di monitor terus merosot ke 85%.
Dalam bisikan yang bergetar, istriku menyerah pada takdir. “Ibu dan Bapak ikhlas, Nak. Kalau Kavi sudah tidak kuat, tidak apa-apa. Ibu ikhlas…”
Layar monitor mulai menampilkan garis-garis keputusasaan. Saturasi anjlok ke angka 50%, lalu 40%. Deru napas yang berat itu perlahan mereda, menjadi sunyi yang memekakkan telinga. Nadi tak lagi tampak, meninggalkan kesunyian yang absolut. Aku memberanikan diri, mendekat ke sisi telinganya yang lain, membisikkan kalimat terakhir yang mungkin bisa ia bawa ke alam sana:
“Maafin Ibu dan Bapak. Love you, Nak…”
***
Epilog: Di Balik Tirai Penyesalan
Terkadang, kita baru menyadari nilai sebuah cahaya ketika ia telah padam sepenuhnya. Kavi, dalam segala kebisuan dan penderitaannya yang tersembunyi, adalah guru yang tidak pernah kami dengarkan. Penyakitnya—Germinoma dan Diabetes Insipidus—bukan sekadar catatan medis, melainkan sebuah pengingat pahit bahwa di balik setiap perilaku yang kita anggap “sulit”, sering kali tersimpan luka yang tidak mampu diucapkan oleh kata-kata.
Kini, ruang tengah terasa begitu luas tanpa bayangannya, dan keheningan malam terasa lebih tajam tanpa suaranya yang meminta perhatian. Kami belajar dengan cara yang paling menyakitkan: bahwa kasih sayang tidak bisa digantikan oleh fasilitas digital, dan kehadiran tidak bisa ditukar dengan kenyamanan materi.
Kavi telah tenang. Ia telah bebas dari tubuh yang mengkhianatinya dan dari dunia yang terkadang terlalu keras baginya. Semoga ia menemukan kedamaian yang tak terhingga di sana, di tempat di mana tidak ada lagi rasa lapar yang menyiksa atau pandangan yang merabun.
Catatan: Cerita ini didedikasikan untuk mengenang almarhum Diego, sebuah pengingat akan perjuangan satu tahun yang tak ternilai, dan menjadi tabungan amal bagi kedua orang tuanya.
– Rossy –

