DarkStories

Catatan hitam : Di Balik Tirai Pernikahan

Sore itu, mendung seolah pindah ke wajah Gadis. Sahabatku yang biasanya meledak-ledak dengan tawa itu datang membawa sepi yang ganjil. Ia duduk bersandar, namun punggungnya tampak rapuh, seolah beban yang ia pikul lebih berat dari gravitasi bumi.

​”Suamiku… sepertinya dia selingkuh,” bisiknya pelan.

Aku tertegun. Pernikahan mereka masih seumur jagung—masih harum bunga melati, pikirku. Suaminya pun tipe pria pendiam, jenis manusia yang kau pikir tak akan pernah sanggup membuat huru-hara dalam rumah tangga.

​”Kau yakin? Mungkin salah paham?” tanyaku hati-hati, berusaha mencari celah untuk menyangkal kenyataan pahit itu.

​Gadis menggeleng lemah, air matanya mulai luruh satu demi satu. “Aku baca pesan-pesannya. Memang belum sampai jauh… tapi semua kata-katanya mengarah ke sana.”

​Aku merapat, menepuk pundaknya pelan, berusaha menyalurkan sedikit kekuatan yang kupunya. “Dia… dengan siapa? Orang mana?”

​Gadis menatapku dengan tatapan kosong yang paling menyedihkan yang pernah kulihat. “Bukan perempuan,” ucapnya dengan napas tertahan. “Tapi laki-laki.”

Duniaku serasa berhenti berputar sejenak. Kabar itu menghantam seperti godam. Aku langsung memeluknya erat, membiarkan isak tangisnya tumpah di bahuku. Gadis menangis sesenggukan, jenis tangis yang membuat dadanya sesak hingga sulit untuk sekadar menghirup oksigen. Suami yang ia cintai sepenuhnya ternyata menyimpan dunia lain yang tak pernah ia sangka ada.

​”Awalnya aku pikir wajar,” Gadis bercerita di sela isaknya. “Dia sering menyukai foto pria-pria berotot di media sosial. Aku pikir dia hanya ingin motivasi untuk membentuk tubuhnya sendiri. Aku tidak menaruh curiga sama sekali.”

​Namun, tabir itu tersingkap saat mereka harus menjalani hubungan jarak jauh (LDR). Di sanalah, sebuah kotak pandora terbuka. Gadis menemukan percakapan suaminya dengan seorang pria—bukan sekadar obrolan biasa, melainkan pertukaran foto yang melampaui batas kewajaran.

​”Aku sempat menyangkal semuanya,” lanjut Gadis. Tangannya bergetar. “Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa mungkin itu hanya cara bergaul pria zaman sekarang. Aku memilih diam, mencoba menelan duri itu sendirian.”

​Tapi, dusta adalah racun yang bekerja lambat. Setiap kali menatap wajah suaminya, Gadis merasakan sesak yang tak tertahankan. Hingga akhirnya, pertahanannya runtuh. Di depan suaminya, ia menangis sejadi-jadinya dan mengakui semua yang ia tahu. Termasuk pesan eksplisit yang paling menghancurkan hatinya: “Aku bergairah melihatmu tanpa busana,” tulis suaminya kepada pria itu.

​Gadis menutup wajahnya dengan kedua tangan, seolah ingin menghapus memori tentang kalimat itu dari kepalanya. Aku terdiam, kehilangan kata-kata. Sebagai teman, aku berusaha menjaga ekspresiku agar tetap netral, agar ia tidak merasa dihakimi, meski di dalam hati aku ikut geram.

​”Aku kurang apa?” suaranya memekik kecil, penuh keputusasaan. “Kenapa dia justru bergairah pada tubuh orang lain… yang bahkan bukan perempuan?”

Melihat Gadis yang hancur berkeping-keping seperti itu, benteng pertahananku pun ikut runtuh. Aku tak sanggup lagi hanya menjadi pendengar yang tegar. Kami pun larut dalam tangis yang sama, meratapi sebuah pengkhianatan yang tak hanya melukai hati, tapi juga meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang istri.

​”Siangnya, aku langsung pergi ke psikiater,” lanjut Gadis, suaranya kini terdengar lebih datar, jenis datar yang muncul saat seseorang sudah terlalu lelah untuk berteriak.

​Aku bisa merasakan keputusasaannya. Ia tidak sanggup memikul beban ini sendirian. Bahkan kepada orang tuanya pun, ia tak berani membuka suara. Gadis tahu persis, alih-alih pelukan penenang, mungkin hanya penghakiman dan cercaan yang akan ia terima jika menceritakan aib suaminya. Lagi pula, pernikahan jarak jauh (LDM) yang mereka jalani saat ini pun adalah kehendak orang tuanya—sebuah ironi yang membuat hatiku mendidih karena jengkel.

​”Lalu, apa kata psikiater?” tanyaku pelan, memecah keheningan yang menyesakkan.

​Gadis menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. “Psikiater bilang itu bukan penyakit, melainkan pengaruh lingkungan yang masih bisa diperbaiki. Aku sempat bertanya kepadanya—karena dia laki-laki—apakah reaksiku ini berlebihan? Apakah wajar jika aku merasa hancur?”

Ia terhenti sejenak, air matanya kembali menggenang. “Aku sempat berharap dia akan bilang, ‘Tenang saja, itu hanya candaan antar lelaki yang biasa’. Tapi nyatanya tidak. Dia menegaskan bahwa aku berhak marah. Aku berhak merasa kecewa. Suamiku tidak seharusnya bersikap seperti itu.”

​”Kau sudah mencoba bicara langsung dengannya?”

​Gadis mengangguk pelan. “Sudah. Tapi dia mengelak. Katanya itu hanya gurauan, tidak bermaksud serius. Dia bahkan menangis di depanku. Anehnya, melihatnya menangis, aku justru merasa iba.”

​Begitulah Gadis. Di tengah rasa tertolak yang luar biasa, ia masih bisa memikirkan rasa iba. Suaminya telah mengkhianati hatinya dengan pria lain, menghancurkan rasa percaya diri Gadis yang memang sudah rapuh sejak awal. Insekyuritas itu kini menjelma menjadi luka yang menganga.

​”Sebenarnya, sejak dulu aku merasa ada yang ganjil dengan caranya bergaul dengan teman-teman lelakinya,” gumam Gadis, seolah sedang menyusun kepingan teka-teki yang selama ini ia abaikan. “Dia bersikap sangat manis kepada semua teman lelakinya, seolah itu hal yang lumrah. Aku jadi bertanya-tanya, apakah dia benar-benar tidak paham bahwa apa yang dia lakukan itu salah?”

Matanya menatapku, memancarkan luka yang begitu dalam. “Aku sudah bilang padanya kalau aku benci dia mengirim foto seperti itu. Apakah tubuhku tidak cukup baginya? Apa setiap kali kami bersama, dia sebenarnya sedang membayangkan orang lain?”

Gadis, sahabatku yang biasanya selalu ceria dan tak bisa diam, kini tampak seperti raga yang kehilangan nyawa. Aku hanya bisa terdiam. Kata “sabar” terasa terlalu hambar dan murah untuk luka sebesar ini.

​”Sekarang, apa keputusanmu?”

​”Aku tidak tahu,” jawabnya lirih. “Dia bilang dia menyesal, tapi setiap kali aku ingin membahasnya untuk melegakan uneg-unegku, dia langsung merasa dipojokkan. Dia tidak mau lagi membahas chat itu.”

​Aku membatin, playing victim. Sungguh ironis. Dia yang memulai api ini, tapi saat Gadis ingin memadamkannya dengan kejujuran, dia justru merasa sebagai korban. Seharusnya dia mengerti betapa hancurnya perasaan istrinya—rasa cemburu, rasa tertolak, dan perasaan bahwa dirinya tidak cukup berharga sehingga suaminya membutuhkan “penyegaran visual” dari orang lain.

Gadis kini terjebak dalam labirin yang pintu keluarnya dikunci rapat oleh rasa bersalah palsu suaminya.

Ketegangan mencapai puncaknya saat Gadis mencoba memberikan peringatan terakhir. Ia hanya ingin suaminya mengerti bahwa kedekatan dengan teman-teman lelakinya sudah melewati batas kewajaran sebuah komitmen. Namun, alih-alih pemahaman, yang ia dapatkan justru sebuah ledakan defensif yang menyesakkan dada.

​”Terus, apa aku harus chat sama cewek saja, biar kamu puas?” tantang suaminya dengan nada tinggi. “Kenapa kamu harus melarangku chat sama cowok?”

​Aku terpaku mendengar cerita itu. Sebuah logika yang bengkok. Seolah-olah di dunia ini hanya ada dua pilihan ekstrem: berselingkuh dengan wanita atau berselingkuh dengan pria. Apakah memiliki satu istri saja tidak cukup untuk memenuhi ruang di hatinya? Pertanyaan itu menggantung di udara, pahit dan tak terjawab.

​”Tapi kamu tahu sendiri kan, dia itu orangnya baik sekali,” gumam Gadis, suaranya kini tenang namun hampa. Ia tidak lagi menangis. Mungkin air matanya sudah habis terbakar oleh rasa kecewa yang berulang.

​Gadis bercerita betapa suaminya adalah sosok ‘papa-able’ di mata orang lain. Tampan namun bersahaja, rajin antar-jemput ke tempat kerja, dan selalu bersikap manis di depan publik. Teman-temannya bahkan sering merasa iri, menganggap Gadis adalah wanita paling beruntung karena memiliki suami yang begitu perhatian dan stabil secara emosional.

​”Orang-orang tidak akan percaya,” lanjutnya lirih. “Di tahun pertama pernikahan kami, saat semua orang mengira kami sedang manis-manisnya, aku justru sedang diuji oleh bayang-bayang orang ketiga yang bahkan tidak pernah kusangka.”

​Memang benar, dunia ini adalah panggung sandiwara yang hebat. Di balik wajah kalem dan pembawaan adem suaminya, tersimpan sisi gelap yang menghancurkan jiwa istrinya perlahan-lahan.

​Setelah Gadis pulang, aku terduduk lama di sudut kamar. Kisahnya meninggalkan lubang di hatiku. Aku menyadari satu hal yang menyakitkan: kita tidak akan pernah benar-benar bisa memiliki seseorang sepenuhnya.

​Seerat apa pun kita menggenggam jemari pasangan, seketat apa pun kita menjaga gerak-geriknya, jika pengkhianatan sudah menjadi pilihan hatinya, maka ia akan terjadi. Sebaik apa pun seseorang saat masa pendekatan, atau sekalem apa pun pembawaannya di awal pernikahan, tidak ada jaminan bahwa kesetiaan akan menjadi pelabuhan terakhirnya.

​Sikap posesif seringkali menjadi sia-sia. Jika seseorang sudah merasa bosan, ia akan mencari jalan untuk pergi. Jika hatinya sudah ingin lepas, genggaman sekuat baja pun akan terasa seperti benang rapuh yang mudah putus.

​Mungkin terdengar klise, tapi pada akhirnya, satu-satunya cara untuk menjaga hati tetap utuh di tengah badai pengkhianatan adalah dengan berserah. Kita hanya manusia yang memiliki keterbatasan untuk mengontrol hati orang lain.

Di balik doa-doa yang dipanjatkan, ada harapan untuk kekuatan. Bukan kekuatan untuk memaksa seseorang tetap tinggal, melainkan kekuatan untuk tetap berdiri tegak meski orang yang kita cintai memilih untuk berpaling. Karena pada akhirnya, kedamaian sejati tidak datang dari kesetiaan orang lain, melainkan dari ketabahan hati kita sendiri dalam menerima takdir yang paling pahit sekalipun.

Jangan pernah menyalahkan dirimu atas pengkhianatan orang lain. Kamu tidak kurang apa pun; mereka hanya tidak tahu cara menghargai apa yang sudah mereka miliki.”

Cerita ini diangkat dari kisah nyata dan diunggah atas persetujuan Gadis

One Comment

  • fanny_dcatqueen

    Huufttt Berat nih kalo udh berbau pelangi 🤧😔. Aku pribadi ga mau lagj sih, walopun ngakunya blm sampai tahap esek2, tapi kok udh males duluan mba. Soalnya takut aja dia ga bisa tersembuhkan, lalu makin menjadi, trus dia bawa virus HIV ke kita. Itu yg aku takutin. Jadi kayaknya kalo udh ke arah pelangi, aku nyerah deh… Langsung bye jauh2 😵‍💫

Leave a Reply to fanny_dcatqueen Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *