Labirin Kepatuhan
Akhir tahun 2016 menjadi sebuah titik balik yang pahit. Di sanalah aku akhirnya tersadar akan sebuah kebenaran yang selama ini terkubur di bawah dogma kepatuhan: tidak semua keputusan orang tua berbuah manis, dan tidak semua pendapat mereka adalah kebenaran mutlak.
Mari kita sebut dia Mas Kumbang.
Ia adalah seorang guru musik yang mengajar adikku, yang biasa kupanggil dengan nama kesayangan, Kacang Atom. Mas Kumbang bukan sekadar pengajar biasa; ia adalah pemilik sekolah musik satu-satunya di pulau terpencil ini—sebuah monumen ambisi yang, ironisnya, justru lebih banyak dipupuk oleh keinginan ayahku daripada keinginan siapa pun.
Pertemuanku dengannya bukanlah sebuah kebetulan romantis di bawah rintik hujan. Tidak. Kami adalah bidak dalam papan catur yang dimainkan oleh dua orang pria tua: ayahku dan ayahnya. Sebuah perjodohan kuno yang dibungkus dengan alasan kemiripan hobi. Ayahku mengagumi musik, dan Mas Kumbang adalah praktisi musik. Ayahku terobsesi dengan politik, dan Mas Kumbang adalah lulusan ilmu politik.
Semuanya tampak begitu selaras di mata Ayah. Begitu sempurna hingga aku sempat membatin dengan getir, “Kalau Ayah merasa dia begitu serasi, kenapa bukan Ayah saja yang menikah dengannya?”
Awalnya, keraguan menyelimuti benakku seperti kabut tebal. Bagaimana mungkin aku bisa membangun masa depan dengan seseorang yang belum pernah kutemui? Kami tinggal di pulau yang berbeda, terpisahkan oleh laut dan ketiadaan interaksi. Namun, demi predikat ‘anak berbakti’ yang terpatri di keningku, aku menelan semua keraguan itu. Aku mengangguk pada tawaran perjodohan itu.
Namun, firasat memang jarang berbohong.
Saat pertemuan pertama kami yang didampingi oleh kedua keluarga besar, keyakinan itu runtuh. Di sana, di tengah riuh rendah percakapan orang tua kami, aku menyadari bahwa kami tidak lebih dari dua orang asing yang dipaksa duduk berdampingan. Tidak ada percikan, tidak ada koneksi, tidak ada feel sama sekali. Sangat kontras dengan debar yang kurasakan saat dulu aku bertemu dengan si ‘Apel Merah’.
Jelas sudah, yang berjodoh dan saling mencintai dalam ruangan ini sebenarnya hanyalah kedua orang tua kami.
***
Suatu Senin yang kelabu, sebuah pesan singkat dari Ibu muncul di layar ponselku.
“Keluarga Mas Kumbang ingin bersilaturahmi ke rumah.”
Aku menjawabnya dengan nada sarkasme yang tipis, berusaha menutupi kepanikan yang mulai merayap. “Silaturahmi biasa atau mau melamar sekalian?”
Aku tahu orang tua kami sudah sangat menggebu-gebu. Namun, jawaban Ibu membuat duniaku seolah berhenti berputar.
“Katanya main biasa. Tapi mereka membawa rombongan keluarga besar sebanyak dua bus.”
Duar! Jantungku seakan meledak. Bagaimana mungkin? Kami baru bertemu satu kali. Kami bahkan belum sempat bertukar kata secara pribadi, dan tiba-tiba saja dia datang membawa ‘pasukan’ untuk sebuah lamaran yang tidak pernah kubayangkan akan secepat ini.
“Kan sudah sama-sama cocok. Bapak sudah sangat sreg dengan keluarganya Mas Kumbang,” bela Ibu.
Lagi-lagi, aku hanya bisa bertanya dalam hati yang meradang: Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan perasaannya? Apakah pendapat kami sama sekali tidak masuk dalam hitungan?
***
Malam itu, rumah kami penuh sesak. Keluarga besar dari pihak Ayah dan Ibu berkumpul. Suasananya seharusnya penuh suka cita, namun bagiku, itu terasa seperti upacara pelepasan menuju liang kepasrahan. Aku sedih, takut, dan merasa terhina oleh keadaan.
Ketakutan terbesarku bukan hanya tentang aku yang tidak mencintainya, tapi bagaimana jika Mas Kumbang pun merasakan hal yang sama? Bagaimana jika dia pun sedang dipaksa, sama sepertiku?
Dengan suara gemetar, aku memberanikan diri bertanya pada Ayah, “Bagaimana kalau Mas Kumbang sebenarnya terpaksa melamar aku? Bagaimana kalau dia tidak mau?”
Ayah menatapku, lalu dengan nada santai yang menghancurkan hatiku, ia memberikan jawaban yang disepakati oleh sanak saudara lainnya:
“Ya sudah, kata Pakde dan Bude, kalian nikah siri saja dulu. Biar kamu tidak ditinggal oleh Mas Kumbang.”
Pikiranku buntu. Mengapa solusinya harus nikah siri? Logika macam apa yang sedang mereka bangun? Jika memang garis takdir tidak mengizinkan kami bersama, lalu kami dipaksakan melalui pernikahan siri, aku akan menyandang status janda secara hukum agama tanpa perlindungan negara. Pemikiran itu menghantamku seperti godam—begitu mengerikan dan tidak masuk akal.
Malam itu, rasa kesalku memuncak, memenuhi setiap sudut dada hingga rasanya sulit untuk sekadar menarik napas. Sebenarnya, aku tidak menolak konsep hubungan tanpa pacaran; aku selalu mendambakan proses taaruf yang sakral. Namun, apa yang terjadi saat ini bukanlah taaruf yang kukenal. Taaruf seharusnya adalah sebuah perjalanan—sebuah proses pengenalan yang panjang dan penuh pertimbangan, bukan sebuah penyergapan yang mendadak seperti ini.
Kenapa harus tiba-tiba melamar? Bagaimana kalau setelah ini aku tetap tidak bisa menyukai Mas Kumbang? Gerutuanku tak kunjung usai, berputar-putar dalam kepalaku seperti kaset rusak.
Ayah menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara otoritas yang tak terbantahkan dan ketidakpahaman. “Sudahlah, keputusan Bapak ini sudah dipertimbangkan matang-matang,” ucapnya dingin. “Kalau kamu masih tidak suka padanya padahal sudah bertemu, berarti kamu yang tidak normal. Dia itu laki-laki tanpa celah. Bapak selalu memilihkan yang terbaik untuk anak-anaknya.”
Vonis itu jatuh: Tidak normal.
Aku, yang selama ini terlanjur menyandang gelar ‘Anak Penurut’, hanya bisa membeku dalam diam. Lidahku kelu. Di rumah ini, apakah ada pilihan lain selain kata “Iya”? Di hadapan ambisi dan keyakinan buta orang tua, suaraku seolah terserap ke dalam dinding-dinding rumah yang mulai terasa asing.
Di luar kamarku, hiruk-pikuk persiapan meledak. Semua orang tampak sibuk, tenggelam dalam euforia yang tidak kubagikan. Ibu tidak berhenti menempelkan ponsel ke telinganya, berkoordinasi dengan ibu Mas Kumbang tentang rencana besar esok hari.
Sementara itu, Ayah menjadi pusat perhatian di ruang tengah. Ia sibuk berkhotbah di depan para kerabat, menjabarkan segala daftar kelebihan Mas Kumbang dengan nada yang penuh kemenangan. Di mata Ayah, Mas Kumbang bukan lagi sekadar guru musik atau lulusan politik; ia telah disulap menjadi sosok sempurna, bak seorang pangeran yang turun dari Kerajaan Antah Berantah untuk menyelamatkan masa depanku.
Aku hanya bisa meringkuk, menyadari bahwa besok, hidupku mungkin tidak akan pernah sama lagi.
***
Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam setiap skenario perjodohan, “kurikulum vitae” sang calon haruslah terlihat berkilau di atas kertas. Mas Kumbang adalah paket lengkap di mata orang tua: orang tuanya bekerja di kementerian, sebuah strata sosial yang sangat disegani. Sementara itu, keluargaku memiliki perusahaan sendiri—meski skala kecil, namun di mata orang luar, itu adalah simbol kemapanan.
Sedangkan aku? Saat itu aku bekerja sebagai… yah, aku kurang nyaman menyebutkan profesi asliku. Mari kita sebut saja aku menjabat sebagai Perdana Menteri di Kerajaan Corea. Sebuah jabatan fiktif yang terinspirasi dari drama The King yang sering kutonton untuk melarikan diri dari kenyataan.
Setiap kali orang tua Mas Kumbang bertemu kerabat mereka, kalimat yang sama selalu terulang seperti kaset rusak:
“Ini lho, calon istri Kumbang. Dia sudah jadi Perdana Menteri!”
“Ini calon mantuku, jabatannya Perdana Menteri!”
Bahkan saat mengenalkan orang tuaku ke tetangga, mereka tak lupa menyematkan label jabatan. “Ini calon besan saya, kerjanya di B, menjabat sebagai C.” Aku hanya bisa berdiri mematung, merasa seperti barang dagangan yang sedang dipamerkan keunggulannya. Sebal.
Hal yang paling menyebalkan adalah ketika privasiku runtuh. Foto lamaranku dengan Mas Kumbang tersebar luas di kalangan teman kampus dan kantor. Tiba-tiba, ponselku dibanjiri ucapan selamat. Teman-teman kantor mulai gaduh meminta traktiran, seolah-olah aku baru saja memenangkan lotre kebahagiaan.
Rupanya, ada satu “oknum” yang mengunggah story proses lamaran kami. Di sana, di jagat maya yang kejam, semua orang mendadak menjadi hakim. Ada yang tulus memberi selamat, banyak yang sekadar ingin tahu, dan tidak sedikit yang mulai melontarkan nyinyiran pedas. Beberapa orang bahkan mendadak menjadi pakar ekspresi.
“Wah, kelihatan banget dari fotonya kalau ekspresi yang cowok masih kekanak-kanakan. Tidak serius,” komentar salah satu dari mereka.
Rasanya jahat sekali. Mereka tidak tahu bahwa saat itu Mas Kumbang sedang berada dalam kondisi bingung dan tidak stabil. Tentu saja, siapa yang tidak limbung jika tiba-tiba diperintahkan melamar seseorang padahal batinnya belum siap?
Lalu ada lagi komentar yang menusuk: “Wah, sudah lamaran ya? Hati-hati lho, lamaran belum tentu berakhir di pelaminan. Jangan senang dulu.”
Mereka mungkin mengira aku sedang mabuk kepayang hingga rela bertunangan dengan pria yang baru kukenal. Padahal, kenyataannya aku sedang berada dalam titik KALUT yang luar biasa! Aku tahu sebagian dari mereka mungkin iri, tapi haruskah mereka menambah rasa tidak amanku dengan komentar-komentar seperti itu?
***
Hari-hariku sebagai tunangan Mas Kumbang berjalan layaknya sebuah naskah yang sudah ditulis rapi oleh orang tua kami. Kami hanya perlu memerankannya.
Setiap minggu, Mas Kumbang datang ke rumah. Beberapa kali dalam sebulan, ia muncul menggunakan mobil hitamnya di depan kantor tempatku bekerja—tanpa bertemu sama sekali dengan teman-temanku. Ia bahkan dibawa ke rumah keluarga besarku di Jawa—tentu saja, agenda utamanya adalah pamer calon mantu.
Sebaliknya, setiap dua minggu sekali, aku harus berkunjung ke rumah Mas Kumbang. Namun, bukan Mas Kumbang yang menemaniku, melainkan ibunya. Beliau membawaku ke berbagai acara arisan, memperkenalkanku ke rumah saudara-saudara jauhnya. Dalam hati aku menjerit; semakin banyak orang yang mengenalku, semakin sulit bagiku untuk memutuskan ikatan ini nantinya.
Bayangkan, aku bahkan belum benar-benar memulai, tapi sudah sibuk memikirkan cara untuk putus! Benar-benar sebuah ironi yang getir. Dan puncaknya, bulan November nanti, aku sudah dijadwalkan untuk menjadi pendampingnya di hari wisudanya. Sebuah peran lagi yang harus kumainkan dengan senyum palsu di wajahku.
Bulan November tiba dengan beban yang lebih berat dari biasanya. Hari wisuda S2 Mas Kumbang seharusnya menjadi momen kebanggaannya, namun bagiku, itu adalah panggung sandiwara besar. Aku hadir di sana bukan sebagai kekasih yang bangga, melainkan sebagai properti pelengkap foto. Jika kau melihat album wisudanya, wajahku ada di setiap lembar; tidak ada satu pun foto Mas Kumbang yang sendirian. Rupanya, target ibunya sudah jelas: sebelum toga itu dipindahkan, Mas Kumbang harus sudah memiliki pendamping resmi di sisinya agar tidak ‘keburu’ oleh waktu.
Selama masa pertunangan ini, kami mencoba berkomunikasi lewat pesan singkat seperti pasangan normal lainnya. Ada upaya kecil dariku—dan mungkin darinya—untuk menumbuhkan benih rasa suka. Aku sempat berpikir, siapa tahu keajaiban itu datang dan kami benar-benar bisa saling mencintai.
Ibu tampak gelisah. Katanya, pihak keluarga Mas Kumbang ingin pernikahan dilaksanakan dua bulan lagi. Ibu dilanda dilema; di satu sisi ia belum siap secara finansial jika harus terburu-buru, namun di sisi lain ia bingung karena sebelumnya pihak Mas Kumbang sempat berkata belum siap. “Masak sudah lamaran tapi belum nikah-nikah?” gumam Ibu cemas.
Namun, badai yang sebenarnya justru datang dari meja makan rumah kami sendiri.
***
”Kapan kalian mau menikah?” pertanyaan Ibu menghantamku di suatu sore.
Aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan kosong. Sungguh aneh, bukankah yang menginisiasi seluruh hajatan besar ini adalah para orang tua? Lalu mengapa sekarang mereka bertanya pada hamba yang hanya mengikuti arus ini?
Kepalaku rasanya mau pecah. Baru dua bulan bertunangan, aku sudah ditodong pertanyaan “Kapan nikah?” hampir setiap hari. Sementara itu, Mas Kumbang sendiri sama sekali tidak pernah membahas topik pernikahan denganku. Meskipun di depan orang ia tampak sangat mencintaiku—setidaknya itu yang kulihat dari tingkat kepercayaan dirinya—masalah ini tetap menjadi ganjalan besar.
”Tanya saja langsung ke Kumbang, kapan dia mau menikahimu? Jangan main-main saja,” desak Ibu berkali-kali.
Karena lelah ditekan, aku akhirnya menuruti perintah itu. Setiap hari aku bertanya padanya, “Kapan kita nikah?”. Lama-kelamaan, Mas Kumbang mulai jengah. Dia melihatku sebagai perempuan yang clingy dan terobsesi pada pernikahan. Dia mulai gampang emosi, lalu perlahan-lahan… dia menghilang.
Aku menyadari bahwa kami berada di posisi yang sama: sama-sama tertekan, sama-sama tidak siap, dan sama-sama jengah dengan situasi ini. Namun, yang membuatku kecewa adalah sikapnya yang pengecut. Dia memilih menjadi “korban” dan melarikan diri, membiarkanku menanggung beban sendirian di depan kedua orang tua kami yang masih menganggap hubungan ini baik-baik saja.
Aku masih dipaksa berpura-pura bahagia, masih harus menjawab pertanyaan “Kapan nikah?” dari semua orang, sementara calon suamiku sendiri menghilang bak ditelan bumi. Rasanya seperti ia melemparkan semua tanggung jawab ke pundakku dan berkata, “Nih, tanggung sendiri semua akibatnya”.
Dia salah paham. Dia mengira aku mengejar-ngejar pernikahan, padahal aku hanya menjadi corong dari keinginan orang tua kami. Mas Kumbang melakukan silent treatment padaku selama lebih dari satu bulan. Pesan WhatsApp-ku hanya dibaca tanpa dibalas, DM Instagram dan Facebook pun tak digubris.
Ironisnya, di saat ia mendiamkanku, orang tua kami justru sedang sibuk menentukan tanggal pernikahan. Aku merasa ngeri membayangkan harus menikah dengan pria yang bahkan tidak bisa menghadapi masalah secara dewasa. Parahnya lagi, di depan orang tuanya, Mas Kumbang berlagak seolah semuanya normal. Dia begitu naif, lari dari masalah seolah-olah akulah yang paling bernafsu untuk segera dinikahkan dengannya.
Dua bulan telah berlalu sejak Mas Kumbang memutuskan untuk membangun tembok keheningan di antara kami. Enam puluh hari yang melelahkan, di mana kami terkadang masih dipaksa bertemu di bawah pengawasan ketat kedua orang tua kami. Di depan mereka, ia adalah aktor watak yang ulung—bersikap seolah semuanya normal dan harmonis. Namun, begitu tatapan matanya jatuh padaku, yang tersisa hanyalah tatapan sedingin es yang membuatku muak.
Aku merasa jengah, terjebak dalam pusaran ketidakpastian sementara suara-suara di sekeliling kami terus menuntut jawaban tunggal: “Kapan nikah?”. Orang tua kami, dalam kenaifan mereka, mungkin mengira kami menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendiskusikan dekorasi pelaminan, padahal kenyataannya kami bahkan tidak saling bicara. Akhirnya, titik jenuh itu tiba. Aku tidak bisa lagi membiarkan diriku terikat pada hubungan yang mati suri ini.
***
Aku mencoba menghubunginya, menuntut sebuah pertemuan. Namun, seperti biasa, dia mencoba melarikan diri dengan alasan acara pertemanan yang tidak jelas. Ketegasanku memuncak; jika dia tidak bisa menjadi pria yang menghadapi masalah, maka aku yang akan menariknya ke medan laga. Aku memberitahunya bahwa aku akan menunggunya di Restoran X—sebuah ultimatum yang tak memberinya ruang untuk bersembunyi.
Ayah, yang mulai mencium ada keretakan dalam skenario indahnya, sempat melontarkan kalimat yang ironis sebelum aku berangkat: “Jangan nodai harga diri kamu hanya demi laki-laki seperti Kumbang”. Aku hanya bisa tertawa getir dalam hati; Ayah mengira aku pergi untuk memohon cinta, padahal aku pergi untuk menjemput kebebasanku.
Saat aku tiba di Restoran X, tak lama kemudian Mas Kumbang datang dengan motor barunya. Ia duduk di hadapanku tanpa sedikit pun berani menatap wajahku, membuang muka seolah-olah kehadiranku adalah beban yang sangat berat.
”Jadi bagaimana? Kita lanjut atau udahan saja?” tanyaku tanpa basa-basi. “Kalau lanjut, harus ada kejelasan, jangan lari dari masalah. Kalau udahan, ya sudah, tidak apa-apa daripada kita menikah hanya untuk berakhir di pengadilan cerai”.
Dia terdiam lama, sebelum akhirnya mulai berbicara dengan gaya khas seorang lulusan politik—berbelit-belit, penuh metafora, bahkan sempat menggunakan analogi dari film Ada Apa Dengan Cinta hanya untuk menyampaikan satu maksud inti.
”Kita udahan saja,” ucapnya akhirnya. “Aku ingin menemukan perempuan yang aku suka, bukan yang disukai orang tuaku. Kalau memang jodoh, terpisah sembilan tahun pun kita akan bertemu. Aku tidak suka dijodohkan seperti ini”.
Kalimat itu memicu ledakan amarah yang tertahan di tenggorokanku. Ingin rasanya aku berteriak: Lalu kau pikir aku suka?! Kalau tidak suka, kenapa kau datang saat lamaran? Kenapa kau ikut pamer di depan keluarga besarku? Kenapa kau mendiamkan aku seolah ini semua salahku?.
Namun, aku menahan semuanya. Aku memilih elegan.
”Oke!” jawabku dengan nada yang sangat antusias. “Berarti kita selesai. Jangan lupa sampaikan pada orang tuamu bahwa kita bukan tunangan lagi. Aku juga akan bicara pada orang tuaku”.
Mas Kumbang tampak terperangah melihat reaksiku. Mungkin dia mengharapkan tangisan atau drama perpisahan, tapi yang dia dapatkan adalah senyum keberhasilan dariku. Aku merasa seolah beban seberat gunung baru saja diangkat dari pundakku.
Akhirnya, aku bisa bernapas. Tidak akan ada lagi teror “Kapan nikah”, tidak ada lagi hubungan tanpa kepastian. Ini adalah akhir yang paling sempurna yang bisa kudoakan. Karena Mas Kumbang yang memutuskan, Ayah dan Ibu tidak akan bisa menyalahkanku, mereka tidak akan merasa dipermalukan oleh anak perempuannya, dan aku tetap bisa menjaga martabatku sebagai ‘Anak Penurut’—setidaknya di mata mereka.
Tuhan benar-benar mempermudah segalanya melalui tangan pria yang ingin melarikan diri itu.
Saat mobil orang tuaku berhenti di depan Restoran X untuk menjemputku, udara di dalam kabin terasa sangat berat. Mereka menatapku dengan sorot mata penuh tanya, menggantungkan harapan pada sebaris kalimat yang akan keluar dari bibirku.
”Sudah beres,” ucapku datar, menatap lurus ke depan. “Kami putus.”
Seketika, atmosfer berubah. Aku bisa melihat gurat kekecewaan yang mendalam, rasa kesal yang tertahan, dan perlahan—sebuah kabut rasa bersalah mulai menyelimuti wajah mereka. Jika kau bertanya apakah aku sedih, jawabannya adalah ya. Aku hancur. Bukan karena kehilangan Mas Kumbang, tapi karena stigma yang membayangi: gagal menikah adalah sebuah aib yang nyata di mata masyarakat.
Pikiranku melayang pada pesta lamaran yang megah itu. Tetangga, keluarga besar, hingga rekan kerja di kantor telah menjadi saksi bisu ikatan kami. Aku bisa membayangkan tawa jahat mereka yang selama ini julid, kini bersiap berpesta di atas reruntuhan rencanaku.
Ada kepuasan pahit saat aku berhasil membuktikan bahwa pilihan Ayah tidak selamanya benar. Namun, kepuasan itu sirna ketika aku melihat air mata Ibu. Beliau menangis, merasa telah menjerumuskanku ke dalam pelukan orang yang salah. Ayah pun setali tiga uang; sosok Mas Kumbang yang dulu dipujanya setinggi langit, kini jatuh menjadi sosok yang paling ia benci.
Padahal, aku tahu ini bukan sepenuhnya salah Mas Kumbang. Pria itu pun sedang tersesat dalam kegalauannya sendiri.
Malamnya, sebuah pesan masuk. Sebuah paragraf panjang yang belum pernah ia kirimkan selama kami bertunangan. Mas Kumbang meminta maaf atas ketidakdewasaannya, atas beban yang ia tambahkan di pundakku, dan atas kebingungannya dalam mengambil keputusan. Ia tampak rapuh di balik layar ponsel itu. Namun, aku sudah selesai dengan drama.
”Iya, tidak apa-apa,” balasku singkat. “Jangan lupa bicara pada orang tuamu, agar mereka bisa menyelesaikannya dengan orang tuaku.”
Balasannya yang terakhir terasa seperti sebuah nisan bagi hubungan kami: “Terima kasih untuk semuanya. Kamu wanita hebat. Aku berdoa agar kamu menemukan laki-laki yang jauh lebih baik dariku.”
Dua minggu kemudian, orang tua Mas Kumbang bertamu. Mereka datang membawa sesal, meratapi sikap putra mereka yang mereka anggap gagal. Padahal bagiku, Mas Kumbang hanyalah korban lain dari kediktatoran orang tua. Di sana terungkap satu hal: Mas Kumbang merasa tidak aman. Ia merasa tidak akan pernah bisa membahagiakanku.
Mungkin itu salahku juga, karena terus menekannya dengan pertanyaan “Kapan nikah?”. Aku hanya ingin berbagi beban, namun baginya, itu adalah lonceng peringatan akan ketidakmampuannya.
Namun, aku tidak akan pernah menyesali babak ini dalam hidupku. Tanpa Mas Kumbang, aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengan ApelMerah. Dari Mas Kumbang, aku belajar satu hal fundamental: seorang wanita harus bahagia dengan dirinya sendiri terlebih dahulu. Karena jika kita tidak bahagia, pasangan kita pun akan tertular oleh kesuraman itu.
***
Aku memahami keputusannya jauh lebih dalam daripada yang ia kira. Sesuatu yang dimulai dengan paksaan tidak akan pernah menemukan muara yang tenang. Kami berdua mungkin sempat berkata “iya” di hadapan orang tua, namun itu hanyalah gema dari ketidakberdayaan kami untuk melawan.
Logika sederhananya begini: andai pun kami saling mencintai, apakah cukup memberi makan anak dan istri hanya dengan segelas “cinta”? Mas Kumbang adalah pria dengan segudang mimpi yang belum terjamah sebelum pernikahan. Ia merasa pekerjaan dan penghasilannya saat itu belum cukup untuk menopang kehidupan rumah tangga. Di sisi lain, aku pun menghadapi ancaman kehilangan jati diri. Aku diminta menanggalkan jabatanku di “Kerajaan Corea” dan dipaksa menjadi tenaga honorer demi bisa tinggal di pulau yang sama dengannya.
Skenarionya sudah terbaca jelas di depan mata: sembilan puluh persen biaya hidup kami akan disokong oleh orang tuanya. Dan itu berarti satu hal—pintu rumah tangga kami akan selalu terbuka lebar bagi campur tangan mereka. Sebuah kehidupan yang jauh dari kata mandiri, sebuah pernikahan yang dikendalikan oleh tangan-tangan di luar pelaminan.
Namun, meski aku memaklumi alasannya, aku tidak bisa memaafkan caranya. Melarikan diri dari masalah adalah sebuah kesalahan fatal yang tak memiliki celah pengampunan. Bagaimana mungkin seorang pria yang kelak menjadi imam bagi keluarganya justru memilih untuk lari setiap kali badai menghantam? Kekuatan seorang pria tidak diukur dari seberapa cepat ia menghindar, melainkan seberapa tangguh ia berdiri di tengah kekacauan.
Kini, biarlah bayang-bayang Mas Kumbang memudar di balik cakrawala. Cerita ini sesungguhnya hanyalah sebuah prolog, sebuah pembersihan luka sebelum aku memulai babak yang jauh lebih berarti tentang pria yang kusebut ApelMerah.
Kegagalan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah filter yang Tuhan berikan agar aku tidak salah langkah. Semoga dari puing-puing rencana yang runtuh ini, ada hikmah yang bisa dipetik bagi siapa pun yang merasa terjebak dalam ekspektasi orang lain.


