Bayang-Bayang di Persimpangan Takdir

Di antara sela-sela penantianku yang tak pasti akan sosok Mas Irul, ia hadir tanpa permisi. Namanya Inova.
Kala itu, komunikasi dengan Mas Irul sedang berada di titik nadir—hening tanpa kabar. Maka, ketika ada tawaran untuk menjalani taaruf dengan Inova, aku mengiyakannya. Kami bertukar curriculum vitae, sebuah prosedur formal yang terasa ganjil namun mendebarkan. Aku harus jujur pada diri sendiri: saat itu aku hanyalah seorang gadis muda yang terlalu naif, seorang “cewek menye-menye” yang begitu terobsesi dengan ide tentang pernikahan hingga mengabaikan logika.
Pikiranku sederhana, mungkin terlalu sederhana: Siapa pun yang lebih dulu mengetuk pintu rumah Ayah, dialah yang akan kuterima sebagai takdir.
Setelah pertukaran profil itu, Mas Inova tampaknya menaruh hati. Namun, aku bahkan belum selesai membaca lembar demi lembar riwayat hidupnya ketika ia mulai menunjukkan sifat aslinya yang impulsif. Tanpa peringatan, ia menemukan akun Facebook-ku, lalu Instagram-ku. Puncaknya, melalui seorang perantara, ia melontarkan sebuah pernyataan yang lebih mirip todongan daripada lamaran: ia ingin menikahiku.
Detik itu, duniaku seolah berhenti. Bukannya bahagia, aku justru dicekam rasa ngeri. “Apa?!” batinku menjerit. Ternyata, aku sama sekali belum siap.
Di tengah proses yang serba cepat itu, ada satu percakapan melalui perantara yang membekas di ingatanku. Mas Inova sempat bertanya dengan nada yang sedikit misterius, “Tak apa, ya, kalau aku ini seorang kontraktor?”
Mendengar itu, keningku berkerut. “Maksudnya… dia bekerja sebagai kontraktor bangunan?” tanyaku polos pada sang perantara.
Perantaraku tertawa saat menyampaikan pertanyaanku kembali padanya. Mas Inova ikut terbahak—atau begitulah yang diceritakan padaku—sebelum akhirnya ia menjelaskan maksudnya. “Bukan begitu. Maksudku, tidak apa-apa kan kalau setelah menikah nanti kita tinggal di rumah kontrakan dulu? Karena menurutku KPR itu riba, jadi lebih baik kita mengontrak sampai uangnya cukup untuk membeli rumah sendiri.”
“Oalah…” gumamku dalam hati. Sebuah pemikiran yang idealis, meski saat itu aku hanya bisa meresponsnya dengan anggukan bingung.
Inilah lubang hitam dalam masa mudaku. Alih-alih mempersiapkan mental dan kemandirian finansial sebagai seorang istri, aku justru sibuk berburu status. Jika waktu bisa diputar kembali, aku lebih memilih untuk mematangkan jiwa, agar tak perlu mengalami guncangan batin saat realitas pernikahan menghantam di kemudian hari. Namun, penyesalan selalu datang terlambat, bukan?
Kembali ke Mas Inova. Meski hatiku diliputi keraguan, aku memilih bungkam. Ada ketakutan tak beralasan bahwa menolaknya akan mendatangkan kualat. Di tengah kebisuanku, ia mengirimkan pesan melalui perantara yang terdengar begitu penuh pengorbanan:
“Insya Allah setelah orang tuaku berangkat haji dua bulan lagi, aku bakalan datang ke rumahnya. Selama dua bulan ini kalau dia tiba-tiba ada yang melamar, tidak apa-apa kalau dia menerima lamaran orang lain. Intinya sebelum orang tuaku naik haji, aku dan dia belum ada ikatan apa-apa. Tapi aku tetap menunggunya.”
Ada semburat harapan yang sempat melintas. Mas Inova bersedia menunggu hingga tugas sucinya kepada orang tua selesai. Namun, semesta tampaknya memiliki naskah yang berbeda. Tuhan selalu punya cara yang lebih lugas untuk menjawab keraguan hamba-Nya.
Belum genap dua bulan berlalu—bahkan sebelum Mas Inova sempat membuktikan kesetiaannya—Mas Irul tiba-tiba muncul di depan pintu rumahku. Ia tidak datang sendiri. Ia membawa serta rombongan keluarga besarnya, memecah keheningan dengan sebuah kepastian yang tak bisa kutolak.
Akhirnya, aku menikah dengan Mas Irul. Sejak hari pernikahan itu, sosok Mas Inova lenyap seperti ditelan bumi. Aku tak lagi tahu kabarnya. Satu hal yang pasti: semua akses komunikasiku dengannya telah tertutup rapat. Ia memblokir seluruh akun media sosialku.
Dulu aku diblokir oleh Mas Kumbang, dan kini, aku menjadi sejarah yang dikubur rapat oleh Mas Inova.