ALUNA
Tulisan ini adalah sisi lain dari cerita The Parker. Yang mana saat pertama kali kamu membaca tulisan itu, kamu akan mengira bahwa penulis sedang mengagumi seseorang secara diam-diam. Padahal jika kamu baca lagi sampai lapisan terdalam, tulisan ini bercerita tentang :
Seseorang yang lama merasa tidak terlihat, akhirnya merasa dilihat.
Sedangkan tokoh Parker hanyalah katalis.
Tokoh utama dalam tulisan itu bukanlah Parker. Tokoh utamanya adalah Aluna yang sedang terluka. Dan Parker kebetulan hadir di bab kehidupan Aluna yang saat itu lukanya masih terbuka. Bagian paling berkesan bukan lagi Parker, bukan juga panggilan lembut “Aluna…”, melainkan saat penulis menulis bahwa keluarga Aluna terlalu sibuk untuk benar-benar hadir ketika Aluna harus ‘bertarung’ seorang diri. Di titik ini, seluruh tulisan menjadi berubah genre. Ketika sebelumnya kita membaca sebuah kekaguman, sesudahnya kita membaca kisah kehilangan. Parker hanya datang untuk mengisi ruang kosong yang sudah ada sebelumnya. Dan inilah mengapa perhatian kecil menjadi sangat besar. Karna yang dibutuhkan Aluna bukan Cinta, tapi kebutuhan untuk merasa dilihat.
Berkali-kali Aluna mendeskripsikan sosok Parker sebagai sosok yang mature, hangat, old money, tenang, intelektual dan lembut. Semua sifat itu satu figur psikologis, yakni: sosok yang aman. Aluna tersentuh bukan karena Parker memberikan tindakan besar. Melainkan hal-hal seperti saat Parker mengingat namanya, mengingat divisinya, mengingat ketidakhadirannya.
Beberapa cuplikan yang menyentuh pada tulisan The Parker:
Ia datang membawa mercusuar.
Kalimat ini menegaskan fungsi Parker seutuhnya. Ia tidak hadir sebagai pasangan hidup yang menggandeng tangan Aluna menuju pelaminan, melainkan sebagai penunjuk arah di saat Aluna benar-benar tersesat di tengah badai batinnya sendiri.. Kemudian cuplikan yang kedua:
“Aku hanyalah seorang wanita yang telah terlalu lama berjalan dalam sepi, hingga ketika seseorang menyalakan sebatang lilin kecil untukku, aku mengira seluruh semesta sedang merayakan kehadiranku.”
Aluna
Ini adalah puncak emosi dari seluruh tulisan. Sebuah pengakuan yang begitu jujur sekaligus menyayat hati. Dalam satu kalimat ini, seluruh motif, kerapuhan, dan latar belakang cerita Aluna langsung tuntas dijelaskan.
Jika harus merangkum The Parker dalam satu helaan napas, maka kesimpulannya adalah:
ini bukan kisah tentang seorang perempuan yang mendambakan seorang pria. Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang teramat kesepian, lalu berpapasan dengan seseorang yang membuatnya merasa “hidup dan dilihat” di saat ia hampir menyerah pada sepi. Aluna kemudian memilih untuk mengabadikan rasa terima kasih yang teramat besar itu ke dalam bentuk tulisan.
Ketika lembar terakhir ditutup dan kita selesai membaca, nama Parker perlahan akan memudar dari ingatan kita. Yang tertinggal dan terus menggema di kepala kita adalah sebuah kalimat tanpa suara yang berbisik sepanjang cerita:
“Terima kasih sudah melihatku, ketika aku sendiri merasa tidak terlihat.”
Pada akhirnya, The Parker adalah sebuah monumen indah. Bukan monumen untuk merayakan Parker, melainkan monumen untuk merayakan versi Aluna yang berhasil bertahan melewati malam-malam paling gelap dalam hidupnya (seorang Aluna yang tangguh), yang memilih untuk selalu mengingat satu orang yang pernah menyalakan sebatang lilin kecil di tengah pekat jalannya.


