Cerita tentang Kita

KAMAR 21

Aku pernah menghuni asrama itu di tahun 2005. Sial, sudah empat belas tahun berlalu? Waktu ternyata punya cara yang licik untuk mencuri usia kita.

​Asrama itu berdiri di pinggiran kota yang sunyi, jenis tempat di mana peradaban seolah menyerah pada hamparan sawah dan tambak yang meluas tanpa ujung di belakang gedung. Di sana, privasi adalah kemewahan yang tidak kami miliki. Kamar-kamar dijejali manusia; ada yang berisi delapan anak, dua belas, bahkan satu kamar raksasa yang menampung dua puluh empat nyawa sekaligus.

​Namun, sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di sana, desas-desus tentang Kamar 21 sudah merambat di koridor-koridor seperti jamur yang tumbuh di musim hujan.

​Setiap enam bulan, Ibu ManggaTua—pemilik asrama yang punya aturan sekeras batu—akan melakukan ritual “rotasi.” Beliau merombak penghuni kamar seolah sedang mengocok kartu remi. Kamar 21 biasanya dikhususkan bagi siswi kelas 3 SMP yang sedang bersiap menghadapi ujian nasional. Logikanya sederhana: kumpulkan mereka dalam satu kandang agar mereka belajar sampai otak mereka mendidih.

​Secara geografis, Kamar 21 adalah sebuah anomali. Letaknya terasing, jauh dari deretan kamar lainnya. Kau harus menyeberangi lapangan luas yang nampak mengerikan di bawah cahaya bulan hanya untuk sampai ke sana. Mengapa? Karena Kamar 21 sebenarnya adalah bekas ruang kelas yang dipaksakan menjadi kamar tidur. Ia berada di ujung deretan kelas-kelas aktif. Di sisi kanannya adalah kelas anak baru, sementara tepat di atasnya—di lantai dua—terdapat sebuah Aula besar dan sebuah “kelas khusus” bagi siswa luar kota yang sedang menjalani program penyetaraan.

​Dan di situlah, di kelas khusus yang menggantung tepat di atas kepala penghuni Kamar 21, kegelapan mulai bermain-main.

​Gangguannya beragam. Ada penampakan yang membuat bulu kuduk berdiri, atau sesekali kesurupan yang membuat suasana kacau balau. Tapi ada satu hal yang paling konsisten, sesuatu yang tidak peduli apakah kau punya “indra keenam” atau kau hanyalah seorang gadis polos yang tidak percaya takhayul.

Geretan bangku.

​Suara kayu yang bergeser kasar di atas lantai beton. Sreeeeet… brak.

​Bunyi itu tidak pandang bulu. Semua orang bisa mendengarnya dengan kejernihan yang menyakitkan. Dan seperti jam weker neraka, pertunjukan itu selalu dimulai tepat pukul 00.00.

​Pihak pengurus asrama bukan tidak tahu. Mereka pernah mencoba melakukan investigasi, melakukan ronda malam dengan harapan menangkap basah warga sekitar yang mungkin sedang iseng melakukan sabotase. Tapi hasilnya? Nihil. Alih-alih menemukan orang iseng, para penjaga itu justru disambut oleh simfoni suara seretan bangku yang menggema di ruangan kosong di atas mereka. Wkwkwk… bayangkan wajah pucat mereka saat itu.

🪾🪾🪾

Tahun 2006. Di sanalah aku, terjebak di dalam Kamar 21 bersama dua puluh tiga gadis malang lainnya. Bayangkan saja, dua belas ranjang susun yang berderit setiap kali kau menarik napas, dijejalkan ke dalam bekas ruang kelas yang terlalu luas untuk kesehatan mental siapa pun.

​Malam itu adalah musim UAS—Ujian Akhir Semester. Dua puluh dari kami masih terjaga, mata merah karena kopi instan dan buku pelajaran, mencoba menjejalkan ilmu ke dalam kepala yang sudah hampir meledak. Lalu, tepat pukul 00.15, pertunjukan dimulai.

Duk.. Duk.. Duk..

​Suara itu datang dari atas langit-langit. Berat dan berirama, seolah-olah ada raksasa yang memutuskan untuk melakukan latihan beban di atas kepala kami. Kaca-kaca jendela yang lebar itu bergetar hebat di bingkainya, mengeluarkan bunyi gemeretak yang membuat nyali kami menciut.

​Kami semua membeku, saling pandang dalam keheningan yang mencekam. Astaga, wkwkwk. Mau lari tapi kaki terasa seperti terpaku ke lantai, mau teriak tapi tenggorokan mendadak kering.

​Lalu suara itu kembali lagi: Duk.. Duk.. Duk... Kali ini lebih liar, seperti sepasang kaki yang sedang kejar-kejaran dengan gila di lantai atas. Kalau itu manusia, mereka pasti sudah gila melakukan maraton di jam dua belas malam. Dan kucing? Kucing mana yang bisa membuat kaca jendela bergetar seperti ada gempa lokal?

​Hanya jeda beberapa detik, dan kemudian… suara legend itu muncul.

Kreeeekkkkkkk… Kreeeeekkkk…

​Suara bangku diseret. Panjang, kasar, dan menusuk telinga. Akhirnya, mitos yang selama ini hanya jadi bahan gosip di kantin, kini bertamu langsung ke telinga kami.

​”Aaaaaaaaaaaa….!”

​Paduan suara histeris pecah. Dua puluh empat gadis—termasuk aku, tentu saja—berteriak seolah-olah kiamat baru saja dimulai. Yang tadinya tidur langsung meloncat bangun dengan jantung berpacu kencang. Tanpa dikomando, kami semua bergulung menjadi satu massa manusia di tengah-tengah kamar. Setidaknya, dalam ketakutan ini, aku bersyukur tidak sedang melek sendirian.

​Kami meringkuk di sana, tidak berani menoleh ke kiri atau ke kanan. Pikiranku mulai melantur, membayangkan ada tuyul atau entitas cebol lainnya yang tiba-tiba muncul—HAHHA. Karena tidak ada satu pun dari kami yang punya bakat indigo, kami hanya bisa pasrah disuguhi “konser” seretan bangku itu terus-menerus sampai fajar menyingsing. Tidak ada yang bisa tidur. Kami menjadi komunitas penakut berjamaah malam itu.

​Saat adzan Subuh berkumandang dan cahaya matahari mulai mengusir bayangan, tim keamanan patroli mengetuk pintu. Mereka menemukan kami semua berkumpul di tengah ruangan seperti pengungsi bencana alam.

​”Pasti dengar suara geretan bangku semalam ya? Hahaha,” goda salah satu petugas. Sialan, kami malah diketawakan.

​Yah, memang hanya suara bangku. Tapi setiap kali kami reuni, kejadian itu selalu jadi bahan tertawaan yang manis. Ada kebahagiaan aneh dalam ketakutan berjamaah itu.

​Sejak malam itu, aku jarang berani tidur lewat jam 00.00 sendirian. Tapi jangan salah, kami pernah sengaja tidak tidur demi menanti “pertunjukan” itu lagi. Demi apa? Demi rasa penasaran yang masokis!

​Sekarang, asrama itu kabarnya sudah direnovasi total. Makin bagus, makin modern, dan Kamar 21 tidak lagi digunakan. Kadang-kadang, aku merasa rindu pada getaran kaca dan suara kayu yang bergeser itu. Sebuah kenangan menyeramkan yang anehnya terasa hangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *