Cerita tentang Kita

Masa Menjadi Mahasiswa Bidan

Jujur saja, aku bingung setengah mati menentukan judul yang pas. Kata “Mahasiswa” rasanya terlalu generik, sementara kisah yang ingin kubagi secara spesifik adalah tentang lika-liku menjadi seorang Mahasiswa Kebidanan—hallah, jemariku masih saja bergetar ragu tiap kali harus mengetikkan nama profesi sakral itu secara gamblang.

Jejak kenangan ini bermula sekitar satu dekade yang lalu, saat takdir dengan jahilnya melemparkanku ke lorong-lorong ilmu kebidanan. Bayangan untuk menekuni bidang ini bahkan tak pernah sekalipun melintas di kepala. Nyatanya, aku tak sendiri; mayoritas kawan-kawanku di sana menyimpan helaan napas yang sama—merasa “tersesat di jalan yang benar”. Kami adalah rombongan jiwa yang terdampar di jurusan ini akibat gagal menembus benteng Fakultas Kedokteran. Jika saja mesin waktu benar-benar ada, aku ingin tertawa sambil menepuk jidatku sendiri: untuk apa dulu ngotot mengejar kedokteran, padahal pintu Teknik Kimia sudah terbuka lebar untukku? Sungguh Ironis.

Kala itu, kehidupan kampus mewajibkan kami menghuni asrama. Bahkan bagi mereka yang berdomisili di Kota Surabays—kota yang sama persis dengan kampus—tak ada pengecualian. Aturan adalah aturan. Bisa dibayangkan betapa riuhnya tempat itu. Mahasiswa dari tingkat satu hingga tingkat tiga tumpah ruah, menyatukan riak tawa dan keluh kesah di bawah satu atap yang sama.

Pada semester-semester awal, satu kamar kami diisi oleh 24 kepala dengan beragam tabiat. Tapi tenang, ruangannya sangat lapang! Kami bahkan cukup piawai menggeser dan mengatur posisi ranjang-ranjang susun agar ruangan terasa makin bernapas. Beruntung, atmosfer asrama tak seketat ikatan pesantren. Kami masih diizinkan menggenggam ponsel, memangku laptop, bahkan ada kawan yang cukup niat memboyong televisi.

Kalau diingat-ingat lagi, penyesalan terbesarku waktu itu cuma satu: kenapa dulu aku tidak sekalian membawa kompor gas portabel? Jadi, tiap kali cacing di perut menjerit minta mi instan di tengah malam, aku tak perlu lagi mengendap-endap numpang di dapur Bunda Asrama.

Sebenarnya, dinas keseharian dan dinamika di asrama tergolong klise. Paling-paling hanya diwarnai agenda nonton bareng, meremah mi instan mentah di tengah malam, drama sengit bentrok dengan senior, hingga drama rebutan kamar mandi di pagi hari.

Satu lagi fenomena yang tak kalah lumrah: setiap senja menyapa, beberapa kawan akan tampil rapi menyambut kedatangan sang kekasih hati. Sementara kami—pasukan tanpa tambatan hati—hanya bisa duduk melipir di sudut ruangan sambil bersiul menggoda, bertindak seolah-olah pengamat asmara paling ulung. Norak memang, tapi sungguh menggelikan jika diingat kembali.

Bicara soal asmara, aku baru teringat satu hal: tiga tahun mengarungi masa-masa kuliah yang berdarah-darah itu, kisah cintaku benar-benar hampa. Datar, monoton tanpa riak. Padahal kalau dipikir-pikir, saat itu sosok yang kini kusebut ApelMerah sudah berstatus pekerja kantoran di Surabaya. Duh, andai saja dulu aku tahu masa depan akan membawaku bermuara padanya sebagai suami, pasti sudah kusepatukan langkahku untuk rajin melipir ke kantornya setiap hari. Mengkhayal memang gratis. Tapi ya sudahlah, toh tak sedikit pula mereka yang merajut kasih berdarah-darah sepanjang kuliah, ujung-ujungnya berakhir jadi tamu undangan di pernikahan mantan.

Suatu hari, seorang teman sempat bertanya, “Kalau diberi kesempatan memutar waktu dan kembali ke masa-masa jadi mahasiswa bidan, kamu mau tak?”

Tanpa jeda, dengan suara lantang aku langsung menjawab, “Nggak akan!”

Sungguh, aku benar-benar tak sudi jika harus mengulang kembali masa-masa itu. Beratnya luar biasa—biar yang lain saja yang menjalani. Kecuali momen-momen hura-hura dan kumpul bersama teman-teman, sisanya benar-benar ingin kulupakan. Selain karena tumpukan tugas kuliah yang sama sekali tidak manusiawi, wujud fisikkupun saat itu sangat tak terurus.

Kala itu, jangankan paham seni mengukir alis, mengoles lipstik saja masih sebatas ditotol-totol tipis tanpa teknik. Pantas saja tak ada satu pun kaum Adam yang berani mendekat. Bagaimana mau melirik, wong alis mata saja gundul tak bertepi—bagaikan taman yang meratap rindu akan hadirnya bunga.

Jika harus menunjuk satu hal yang paling mengerikan selama berstatus sebagai mahasiswa kebidanan, jawabannya cuma satu: Praktik Klinik. Karena aku mengemban status sebagai mahasiswa diploma—bukan sarjana—porsi kehidupan kami terbagi tajam: 80% babak belur di lapangan praktik, dan 20% sisanya baru bergelut dengan teori.

Gelanggang praktik ini terbagi menjadi tiga medan tempur: Rumah Sakit, Puskesmas, dan yang paling berada di tingkatan teratas horornya, BPS (Bidan Praktik Swasta)—atau yang kini sering disebut BPM. Ah suka-suka merekalah menyebutnya apa.

Satu rotasi praktik berlangsung selama dua minggu yang terasa amat panjang. Jika di Rumah Sakit atau Puskesmas kami masih bisa bernapas lega karena bisa pulang-pergi (kecuali saat giliran shift malam), maka di BPS lain cerita. Kami diwajibkan menginap di kediaman sang bidan senior. Menjadi “penumpang” makan sekaligus merangkap jadi asisten serba bisa—bahkan tidak jarang berujung jadi babu dadakan (meski tak semua BPS setega itu).

Keadaan makin dramatis jika di BPS tersebut sudah ada asisten bidan menetap. Haduuuh, tingkah mereka kadang melambung tinggi ke angkasa, seolah-olah seisi negeri ini berada di bawah kendali mereka seorang. Padahal status mereka di sana sama-sama magang dan bukan pemilik klinik. Entah mantra apa yang merasuki mereka—sulit sekali dilukiskan dengan kata-kata.

Singkat cerita, momen ‘pendaratan’ pertamaku di BPS terjadi sewaktu masih duduk di semester dua. Semester dua adalah gerbang awal kami diutus ke medan perang yang sesungguhnya. Setiap mahasiswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan berotasi secara berkala. Idealnya, satu titik BPS ditempati minimal dua orang mahasiswa.

Kala itu, aku dan seorang temanku dijadwalkan bertugas di sebuah BPS daerah Sidoarjo. Tapi kocaknya sistem kampusku—dan ini bikin mengelus dada—temanku itu padahal sudah resmi drop out! Namun entah mengapa namanya masih mejeng gagah di daftar mahasiswa praktik klinik. Lantas bagaimana nasibku? Ya, beban kerja yang seharusnya dipikul bertiga atau berdua, terpaksa harus kutanggung seorang diri di atas pundakku yang ringkih ini. Sial!

Tak usah kudeskripsikan betapa dramatisnya proses packing dan persiapan sebelum berangkat. Dramanya puooll! Atmosfernya persis seperti prajurit yang hendak berlayar ke garis depan pertempuran. Belum lagi godaan dari senior-senior semester 4 dan 6 yang bukannya memberi dorongan semangat, malah menghujani ucapan belasungkawa.

“Kamu dapat BPS Kinasih? Ya Allah… yang sabar ya, Dek,” bisik seorang mbak semester 4 dengan tatapan prihatin.

“Sama siapa di BPS Kinasih? Sendirian?! Astaga… ya sudah tidak apa-apa. Dikuat-kuatin ya hatinya,” timpal mbak semester 6, seolah-olah aku sedang diantar menuju tempat pengasingan.

Sesampainya di BPS Kinasih dengan menyeret dua koper berukuran raksasa, aku hanya bisa berdiri plonga-plongu clingak-clinguk sendirian bagai kera yang terlempar ke habitat asing. Sepi. Di sudut kasir, tampak seorang mbak asisten sedang melayani pasien. Ketika aku mencoba melempar senyum ramah sebagai gestur perkenalan, dia justru berpaling melengos begitu saja. Lho?! Whutt?!

Mencoba tidak ambil pusing, mataku beralih pada mbak asisten lainnya yang sedang sibuk melakukan anamnese pada pasien. Dengan sisa-sisa keberanian yang kukumpulkan, aku melangkah menghampirinya lalu mengucapkan salam dengan nada sehalus mungkin.

“Saya mahasiswa yang mau praktik di sini, selanjutnya saya harus menemui siapa, ya?” tanyaku sesopan mungkin.

Mbak yang sedang sibuk melakukan anamnese itu menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu tanpa sepatah kata pun dagunya terangkat, menunjuk ke arah sebuah ruangan kecil di sudut. “Silakan bertemu Bu Asih ya, Mbak,” ujarnya singkat.

Aku melangkah masuk ke ruangan yang ditunjuk. Di sana, duduklah Bu Asih—sosok pemilik BPS Kinasih. Beliau menyambutku dengan senyum hangat yang menenangkan, seraya mengibaskan tangan memintaku duduk.

“Kamarnya di lantai atas ya, Nduk. Nanti kamu berbagi kamar sama mbak-mbak magang lainnya. Di sini pasiennya melimpah. Sebulan bisa menangani sampai 40 persalinan dan 120 pasien pemeriksaan kehamilan. Jadi kamu beruntung sekali bisa ditempatkan di sini, target praktikmu insya Allah bakal cepat tercapai…” tutur Bu Asih panjang lebar, yang sisanya hanya terdengar seperti deretan bla-bla-bla di telingaku yang sudah terlanjur cemas.

Singkat cerita, aku pun digiring menuju peraduan baru: kamar khusus mahasiswa. Di ruangan itulah aku dileburkan bersama penghuni lainnya. Ekosistem kamar ini terdiri dari dua bidan magang, dua asisten bidan, dan aku—satu-satunya mahasiswa aktif yang tersisa dan meratap dalam hati.

Salah satu bidan magang di sana, sebut saja namanya Dira, usianya tiga tahun lebih tua dariku. Dengan cekatan dan sedikit gaya senioritas, Mbak Dira langsung mengajakku keliling. Tangannya sibuk menunjuk-nunjuk tiap sudut ruangan dan barang-barang yang wajib kuhafal luar kepala. Tak lupa, ia membeberkan ritual harian dari terbit matahari hingga memejamkan mata kembali.

Setelah tur singkat mengelilingi setiap jengkal BPS Kinasih selesai, aku bergegas berganti seragam. Hari pertama di medan perang baru saja dimulai, dan aku harus bersiap menyambut giliran pelayanan.

Di antara deretan penghuni tempat itu, ada seorang bidan yang memegang tahta sebagai asisten bidan utama. Tanggung jawabnya paling besar—yang tentu saja berbanding lurus dengan pundi-pundi gaji yang ia kantongi. Perawakannya jangkung kurus, berhidung pesek, tapi tak bisa dipungkiri ia memang cantik. Kulitnya bersih berseri, dipadu riasan wajah yang selalu terawat dalam paduan warna cokelat dan merah muda yang pas.

Sayangnya, paras cantiknya tak selaras dengan perangainya. Bibirnya seperti diharamkan untuk tersenyum, wajahnya ditekuk merungut sepanjang hari. Terutama jika sorot matanya berpapasan dengan kasta terendah dalam hirarki klinik tersebut: mahasiswa. Gaya bicaranya tak pernah santai, selalu diiringi nada membentak.

Suatu hari, ketika ia sedang bersantai di kamarnya, aku melangkah mendekat untuk mengabarkan tugas.

“Mbak, ada pasien datang…” panggilku sepelan mungkin.

“IYAA TUNGGU!! AKU MAU ISTIRAHAT NGGA BOLEHHH?!” semprotnya dengan nada tinggi yang menggelegar.

Seketika aku terperanjat dan refleks mundur beberapa langkah dari ambang pintunya. Ya ampun, galaknya!

Setiap kali waktu siang menyapa, seluruh penghuni BPS akan berbondong-bondong kembali ke kamar mereka masing-masing—layaknya kawanan ayam yang pulang ke kandangnya dengan tenang. Terkecuali aku.

Aku baru diizinkan ‘pulang’ meluruskan punggung di kamar ketika jam dinding menunjukkan pukul 22.30 malam. Itu pun masih dibumbui dengan syarat mutlak: asal tidak ada pasien yang hendak bersalin!

Padahal, hukum alam yang tak tertulis di dunia kebidanan mencatat bahwa 90% bayi memilih lahir di tengah malam yang sunyi! Dengan kata lain, secara implisit aku ditumbalkan untuk menjaga BPS milik orang lain selama 24 jam nonstop. Aku hanya diizinkan menginjakkan kaki di kamar untuk urusan mandi, buang air, atau salat. Sungguh Malang sungguh malang, betapa mengenaskannya nasibku saat itu!

Mungkin orang luar berpikir, “Ah, cuma jaga klinik 24 jam, paling bisa sambil goler-goler santai.” Hell no! What a joke! Mau goler-goler di mana kalau tempatku ditugaskan adalah ruang tunggu pasien? Jangankan rebahan, sekadar selonjoran menetralkan pegal pun rasanya mustahil.

Dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam, klinik tak pernah sepi dari lalu lalang pasien rawat jalan. Begitu malam merayap, sambung lagi dengan maraton proses persalinan sampai subuh. Selama pasien berjuang melahirkan, aku harus terus setia berada di sampingnya, memijat-mijit punggungnya tanpa henti. I know, itu memang bagian dari tugasku. Tapi, can we please swap shifts?!

Anak-anak magang dan asisten bidan senior bisa bergantian dengan indahnya—yang satu tidur siang, yang satu siaga. Tapi begitu ada aku? Boom! Mereka mendadak tidur siang jamaah. Kalau diingat-ingat lagi sekarang, they were so inhumane! What a bunch of jerk!

Pernah suatu hari, ketika aku sedang memburu waktu mencuci plasenta, Bu Asih sang pemilik BPS berjalan melintas. Aku melempar senyum tipis ala kadarnya lalu lanjut membilas darah. Tiba-tiba Bu Asih mendekat dan berkata dengan nada lembut:

“Mbak, kalau nggak ada pasien gini kamu tiduro. Biar nggak capek. Melek terus 24 jam kamu nanti capek lo…”

Holy shit, ya percuma to Bu! Wong yang memaksa dan menyuruh saya melek-an dari pagi ketemu pagi lagi itu ya asisten-asisten kesayangan njenengan sendiri! Ingin rasanya kuteriakkan kalimat itu di depan wajahnya, tapi ya… tentu saja hanya berani kuucapkan dalam hati.

Aku terus dipaksa bekerja tanpa jeda. Naik-turun tangga seorang diri, disuruh ke sana-kemari tetap dilakoni tanpa protes. Sampai pada titik di mana jempol dan lututku mati rasa. Pak Satpam—satu-satunya manusia yang masih punya hati nurani dan empati di tempat itu—sampai iba dan membelikanku minyak urut karena melihat kakiku yang mulai membengkak.

“Neng, samean iki gak kesel ta?” bisik Pak Satpam penuh iba. “Kerjaan gini ini nggak normal kalau ditanggung sendiri. Kakak-kakak kelas sampean lo sering nangis padahal mereka ke sini berdua. Katanya capek, apalagi sampean yang sendirian. Seminggu ada 14 persalinan lo ini!”

Wow. Jangankan menghitung jumlah persalinan, buat buang air besar (BAB) saja aku tak punya waktu, let alone counting those damn deliveries!

Puncak dari kegilaan ini terjadi ketika fisiku benar-benar tumbang karena $6 \times 24$ jam hampir tidak tidur. Waktu sedang melayani anamnese pasien, kesadaranku mendadak menguap. Aku tertidur sambil berdiri!

“Bu, ada keluhan apa?” tanyaku di awal. Pertanyaan masih sangat jelas, walau kepalaku sudah berputar hebat.

“Ini Mbak Sus, perut saya kram. Pipis udah mulai sering. Terus gerakan dedek… “

BYEE!! I DON’T REMEMBER ANYTHING AFTER THAT! Hahaha, bullshit!

Tubuhku ambruk begitu saja, jatuh tersungkur meluncur ke bawah kursi. Mbak Dira yang menyaksikan adegan tragis itu bukannya khawatir, malah makin menyemprotku dengan galak: “DEKKK, kamu ngapain sih?!”

Karena kala itu aku masih sangat polos, belum jadi pribadi yang judes, dan belum punya keberanian untuk memaki balik, aku hanya bisa tersenyum malu-malu kucing di lantai. Malunya setengah mati, rasanya ingin menangis saat itu juga. What a nightmare!

Satu-satunya momen ‘surga’ yang kupunya hanyalah saat aku pamit izin mandi. Di dalam kamar mandi, aku bisa duduk selonjoran lamaaaa sekali. Menikmati indahnya hakiki dari sebuah kesempatan ‘bisa selonjoran’. Demi menjaga kewarasan otak (healing tipis-tipis), aku menyumbal telinga dengan headset dan mendengarkan musik.

Aku ingat betul, lagu yang sedang booming dan paling sering kuputar waktu itu adalah lagu Perahu Kertas. Tapi gilanya, sampai hari ini, tiap kali tak sengaja mendengar lagu itu diputar, bukannya nostalgia manis yang dirasa, melainkan rasa mual dan muak karena teringat masa-masa perbudakan senior bidan di BPS Kinasih. Huh, screw those memories!

Ritual pagiku di BPS selalu bermula dengan cara yang sama: mengepel seluruh penjuru klinik. Mulai dari ruang bersalin, area kasir, kamar perawatan kelas 1, 2, dan 3, hingga ruang VIP yang megah—semuanya harus berkilat lewat usapan tanganku sendiri.

Mbak Dira? Cerdas sekali dia. Setiap kali bangun tidur, ia hanya menyapu sekadarnya, menyerahkan sisa pekerjaan terberat padaku. Waktu itu, dalam kepolosan yang naif, aku batin bersabar: “Ah, mungkin memang beginilah suratan takdir seorang mahasiswa. Jangan banyak mengeluh.”

Namun kini, setelah bertahun-tahun berlalu dan aku menjelma menjadi seorang pekerja, baru kusadari betapa konyolnya jalan pikiranku saat itu. Harusnya aku di sana untuk menyerap ilmu, melipatgandakan target persalinan, kehamilan, KB, dan kompetensi medis lainnya. Aku punya hak penuh untuk belajar! Tapi kesempatan itu sirna, tergilas oleh rutinitas domestik yang tak habis-habisnya: mengepel lantai, memijat pasien, mencuci piring, mensterilkan alat kesehatan, mengepel ulang, mencuci serbet, hingga melipat kain kasa. Begitu terus, berputar dalam lingkaran yang sama. Bukan maksudku untuk cengeng, sebab aku tahu setiap mahasiswa punya porsi penderitaannya masing-masing. Hanya saja, hatiku tetap saja tak mampu menakar ketidakadilan ini.

Hingga akhirnya, tiba di satu titik puncak di mana benteng pertahananku benar-benar runtuh. Bayangkan, bagaimana rasanya terjaga tanpa tidur yang layak selama $10 \times 24$ jam? Otakku membeku, ragaku kehilangan tumpuan. Dengan sisa-sisa keberanian yang ada, kubulatkan tekad meminta izin tidur sebentar kepada para asisten bidan.

Mungkin karena melihat wajahku yang sudah seperti mayat hidup, mereka akhirnya mengizinkan. Rencananya aku hanya ingin terlelap dua jam. Namun, tubuh yang teramat lelah menagih haknya: aku tertidur lelap hingga lima jam penuh, dari jam satu siang hingga lima sore.

Saat kelopak mataku terbuka, gelombang kepanikan luar biasa langsung menghantam dada. Tanpa sempat menyeka wajah apalagi mandi—karena memang aku tertidur masih lengkap dengan seragam dinas—aku melompat bangkit dan langsung menclok berdiri siaga di dekat meja pemeriksaan. Dengan perasaan waswas, kuperhatikan raut wajah bidan-bidan lain, bersiap menerima amukan atau tatapan sinis. Namun anehnya, mereka hanya menatapku datar, tanpa ekspresi.

Sembilu yang sesungguhnya baru menghujam ketika lembar evaluasi nilai dibagikan. Dari sekian banyak mahasiswa, nilaiku mencatat angka paling rendah. Pahit sekali.

Ketika kuberanikan diri bertanya di mana letak kesalahanku, jawaban yang kuterima sungguh di luar nalar: “Tidurnya kelamaan.”

Tidurnya kelamaan?!

Gusti… Hanya karena sekali aku tertidur lima jam, apakah pengorbanan berjaga tanpa lelap selama $10 \times 24$ jam itu mendadak menguap tanpa arti? Tak dihitung sama sekali?

Kenyataan kian menyayat ketika di akhir periode, seluruh pencapaian target semester dua milikku dinyatakan dihanguskan begitu saja. Pedih rasanya. Berdarah-darah menjadi pekerja kasar, terjaga sepanjang malam melebihi peronda ronda malam, namun pada akhirnya harus pulang dengan tangan hampa.

Sekian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *