-
Bayang-Bayang di Persimpangan Takdir
Di antara sela-sela penantianku yang tak pasti akan sosok Mas Irul, ia hadir tanpa permisi. Namanya Inova. Kala itu, komunikasi dengan Mas Irul sedang berada di titik nadir—hening tanpa kabar. Maka, ketika ada tawaran untuk menjalani taaruf dengan Inova, aku mengiyakannya. Kami bertukar curriculum vitae, sebuah prosedur formal yang terasa ganjil namun mendebarkan. Aku harus jujur pada diri sendiri: saat itu aku hanyalah seorang gadis muda yang terlalu naif, seorang “cewek menye-menye” yang begitu terobsesi dengan ide tentang pernikahan hingga mengabaikan logika. Pikiranku sederhana, mungkin terlalu sederhana: Siapa pun yang lebih dulu mengetuk pintu rumah Ayah, dialah yang akan kuterima sebagai takdir. Setelah pertukaran profil itu, Mas Inova tampaknya menaruh…